6 Tipe Cinta/Kasih menurut Yunani Kuno

Februari 1, 2016 1 komentar

love-is-everywhere-easy-branches

Masyarakat Yunani kuno memiliki pemahaman yang sangat luas ketika berbicara tentang namanya “cinta”. Mereka memahami cinta secara jauh lebih spesifik dan membaginya kedalam 6 variasi yang berbeda. Dengan variasi ini, mungkin masyarakat Yunani kuno akan menganggap masyarakat sekarang “tidak sopan” ketika kita menggunakan kata “love” saat membisikkan ke pasangan kita “I love you”, dan saat mengakhiri email dengan “lots of love”.

Jadi, apa saja 6 tipe cinta menurut Yunani kuno? Bagaimana pemahaman ini bisa kita gunakan sebagai inspirasi kita untuk tidak hanya mengejar cinta yang romantis saja, yang saat ini banyak sekali dicari-cari oleh kaum muda (dan sering gagal) dengan berharap bahwa kebutuhan emosional mereka terpenuhi?

1. Eros (Gairah Seksual)

tumblr_lar7o0w3jt1qeuwcho1_500Bentuk yang pertama adalah eros, diambil dari nama Dewa Kesuburan, yang merepresentasikan gairah seksual dan nafsu. Eros adalah jenis cinta yang berwujud fisik dan romantis. Lebih menekankan pada daya tarik fisik. Bentuk yang paling umum dilihat dan pasti dirasakan oleh pasangan suami-istri. Namun masyarakat Yunani tidak selalu menanggap eros sebagai sesuatu yang positif, seperti yang kita pahami saat ini. Bahkan eros dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya, nafsu penuh gelora, dan bentuk cinta yang tidak rasional, yang dapat merasuki dan meracuni (sebuah sikap yang sekarang sudah banyak timbul pada kaum muda yang belum menikah)

Eros juga termasuk pada sikap “kehilangan kendali” yang ditakuti masyarakat Yunani. Walaupun aneh, karena bukankah yang kita inginkan adalah “kehilangan kendali” saat bercinta dengan suami/istri kita?

2. Philia/Filia (kasih persahabatan)

pz2000x1280_LionKingBentuk kedua adalah philia atau bentuk kasih persahabatan, yang lebih berharga bagi masyarakat Yunani dibandingkan eros. Philia lebih condong pada perasaan yang timbul atas dasar persaudaraan/persahabatan yang tinggi antar orang yang bertarung bersama di medan perang. Philia merupakan loyalitas tinggi terhadap teman, sikap yang rela berkorban demi persahabatan, termasuk kerelaan berbagi perasaan kepada mereka. (Bentuk lain dari philia, yang dikenal dengan storge, tergambar dari kasih antara orang tua dan anaknya).

Mari kita bertanya, berapa banyak kasih philia yang kita miliki dan rasakan saat ini. Hal ini menjadi penting di masa sekarang, dimana kita berlomba untuk memperbanyak friends facebook atau twitter follower. Sebuah pencapaian yang bahkan tidak berharga bagi masyarakat Yunani.

3. Ludus (cinta rayuan)

downloadLudus diartikan masyarakat Yunani sebagai cinta yang penuh dengan permainan dan cumbu rayu, yang sering dirasakan oleh anak-anak maupun remaja (lebih cocok diartikan sebagai naksir-naksiran). Sepertinya kita semua pernah merasakan cinta ludus . Ingat ketika di masa awal-awal pacaran, sering menggoda-goda, teasing dan flirting kepada seseorang yang kita taksir? Namun ludus juga sering kita lakukan saat berkumpul dengan teman/geng sambil tertawa2 dan saling menggoda satu sama lain.

Bertemu dengan orang asing, saling menggoda, saling tertawa, lalu berjoget-joget dengan orang itu, adalah bentuk paling nyata dari ludus. Sebuah aktivitas dimana cinta hanya sebuah permainan, dan tidak ada keinginan serius untuk bercinta/menjalin hubungan. Norma sosial mungkin tidak dapat menerima jenis cinta ini, namun bisa jadi ludus juga dibutuhkan untuk sedikit membumbui hidup anda.

4. Agape (kasih tanpa syarat)

b8f87d3f7740a79db356e3e522ce4976Bentuk keempat, adalah agape, merupakan perwujudan kasih yang paling radikal. Agape adalah cinta tanpa pamrih. Agape adalah cinta yang anda tunjukkan kepada semua orang, tidak perduli keluarga, atau orang asing sekalipun. Agape adalah cinta yang anda berikan tanpa memperdulikan kondisi yang harus anda hadapi. Agape juga diartikan ke dalam bahasa latin sebagai caritas, yang menjadi asal dari kata “charity” (amal/derma).

C.S. Lewis merefer agape sebagai “Kasih dari anugerah”, bentuk tertinggi dari Kasih bagi orang Kristen. Yang terlihat dari kasih yang ditunjukkan Kristus ketika Dia rela mati sebagai ganti dari dosa semua manusia. Agape juga dikenal oleh tradisi keagamaan lain, seperti mettā atau cinta kasih universal pada ajaran Budha Theravāda.

Banyak bukti nyata yang menunjukkan bahwa agape secara drastis telah berkurang dalam kehidupan masyarakat dunia. Level empati kita telah berkurang banyak dalam 10 tahun terakhir ini. Kita perlu untuk kembali meningkatkan kapasitas diri kita untuk bisa perduli terhadap orang asing.

5. Pragma (Cinta abadi)

74bb1452-48b9-40ac-acdd-90c6d2009df2_x400Bentuk cinta lainnya adalah bentuk cinta yang lebih dewasa, yang disebut dengan pragma. Mungkin agak berlebihan mengatakan pragma adalah cinta abadi, namun jenis ini sangat terlihat pada hubungan istimewa antara pasangan yang telah lama menikah, yang telah membentuk sebuah pemahaman yang mendalam satu sama lain.

Pragma lebih kepada keinginan untuk berkompromi, membentuk pertimbangan bersama, agar hubungan dapat berlangsung dalam jangka panjang, sambil menunjukkan kesabaran dan toleransi yang luar biasa tinggi terhadap pasangan.

Seorang analis psikolog Erich Fromm menangatakan bahwa kita lebih banyak mencurahkan energi dan usaha untuk mencari dan merasakan “jatuh cinta”, namun lupa untuk belajar bagaimana caranya “bertahan dalam cinta”. Pragma adalah tentang bagaimana bertahan dalam cinta: lebih berusaha untuk memberikan kasih, dari pada menerima kasih.

Coba lihat di Indonesia ini, dimana sudah banyak pernikahan (baik yang berumur muda maupun tua) berakhir pada perceraian ataupun berpisah. Dipastikan bahwa dosis pragma dalah kehidupan berumah tangga sudah banyak mengalami penurunan.

6. Philautia (cinta pada diri sendiri)

loving-yourselfBentuk keenam dari cinta/kasih adalah philautia atau cinta terhadap diri sendiri. Masyarakat Yunani dengan cerdas membagi bentuk ini menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah tipe tidak sehat yang tergambar pada narsisme, dimana seseorang menjadi terobsesi pada diri sendiri, dan fokus pada ketenaran dan kekayaan personal. Tipe kedua adalah tipe yang sehat, yang menjadikan seseorang memiliki kapasitas yang lebih tinggi untuk mengasihi orang lain.

Maksudnya adalah bila seseorang menyukai dirinya sendiri, dan merasakan keamanan terhadap dirinya, maka dia akan memiliki lebih banyak kasih untuk diberikan kepada orang lain (diinspirasi dari ajaran budha “self-compassion”). Atau seperti kata Aristoteles “Semua perasaan baik yang diberikan seseorang terhadap orang lain adalah perwujudan dari apa yang dia rasakan terhadap dirinya sendiri”.

————————–

Masyarakat Yunani Kuno membedakan cinta/kasih dengan melihat dari hubungan yang terbentuk antar teman, saudara, pasangan, orang asing, bahkan diri sendiri. Sangat berbeda dengan pemahaman masa kini, dimana kita fokus terhadap satu hubungan yang romantis, namun menginginkan untuk bisa mendapatkan semua bentuk kasih dari pasangan saja. Pesan yang diberikan oleh masyarakat Yunani kuno adalah agar kita memahami bahwa dalam bentuk yang berbeda, sumber nya pun berbeda. Jangan hanya mencari eros, tapi juga cari philia dengan bergaul dengan teman, atau mendapatkan ludus dengan pergi hangout dan mencari teman baru.

Lebih jauh lagi, jangan terpaku untuk mencari kesempurnaan. Jangan mengharapkan pasangan anda untuk mampu memberikan seluruh bentuk kasih setiap saat (dengan resiko bahwa anda dapat dengan mudah pergi dari pasangan anda ketika mereka tidak mampu memenuhi keinginan anda). Sadarilah bahwa sebuah hubungan dapat dimulai dari ludus dan eros, namun seiring waktu akan banyak bergeser kepada pragma dan agape.

Perbedaan jenis cinta ini juga dapat memberikan pengharapan dan ketenangan. Dengan menyadari bahwa ada banyak jenis cinta dan juga sumber nya, anda akan melihat bahwa sebenarnya anda telah menerima banyak sekali cinta kasih dari sekeliling anda, sekalipun anda sedang tidak memiliki pasangan.

Sudah saatnya kita menyadari dan mengaplikasikan enam jenis cinta kasih ini dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika kita berbicara, berpikir, dan bertindak. Dunia ini indah, teman-teman.

love_is_everywhere_and_in_everything__by_penni2-d5qdhm8

(sumber : http://www.yesmagazine.org/happiness/the-ancient-greeks-6-words-for-love-and-why-knowing-them-can-change-your-life. Diakses 01 Februari 2016)

ABD – Anak Baru Diet

Kemaren di sebuah social network, ada pembicaraan seputar diet. Dulu sih sudah pernah menjalankan diet, tapi tampak sulit dilakukan, akhirnya berhenti dan gagal.

 

Tapi diet yang satu ini kayaknya cukup menjanjikan dan mudah dijalankan.

 

OCD, alias metode Obsesive Corbuzier’s Diet, adalah metode diet yang dikembangkan oleh Deddy Corbuzier baru-baru ini. Setelah dilihat-lihat dan dipelajari, diet ini serupa dengan metode yang sudah selama ini dikenal dengan Intermittent Fasting. Silahkan googling kalo nggak tau itu apa.

 

Jadi, akhirnya mencoba model diet intermittent fasting ini. Goal dalam minggu ini adalah 16 jam puasa, dengan jam buka puasa mulai 12.00 sampe 20.00. Makan 2 kali sehari, dengan diselingi ngemil2 wajar. Tujuannya membiasakan tubuh supaya nggak manja karena selama ini terbiasa sarapan pagi nasi terus. Cemilan selama puasa? Air putih. Belum nemu sih apa lagi yang bisa dikonsumsi yang menghasilkan 0 kalori. Banyak minum aja deh. Jam buka puasa? di flexibelkan saja dengan kegiatan2 dadakan.

 

Let’s see bagaimana bentuk tubuh saya akhirnya.

Kategori:Daily Life

Banyak SPAM nih

Kok tiba2 beberapa bulan terakhir, di blog ini jadi banyak spam nya ya?

 

Kayaknya spamnya pada berdatangan sejak nginstal aplikasi wordpress di android deh. Cuma beberapa bulan terakhir doang. Capek banget ngehapusin satu-satu. Tp gara2 ngehapusin jadi ketauan kalo ternyata udah banyak komentar2 di postingan2 yang lain. haha. Maaf ya komentarnya nggak keurus.

Kategori:Uncategorized

Terkikisnya mentalitas batak

April 9, 2013 3 komentar

Judul yang aneh dan sangat kontroversi, tapi ini fakta dan harus diceritakan. Walaupun hanya sekedar suara hati, tp ada keinginan untuk membagikannya.

Siapa yg gak pernah dengar suku batak? Begitu dengar org batak, pasti langsung terbayang dengan sifat yg keras, tegas, bersuara besar, mentalitas tinggi, disegani, dikagumi, cerdas, dan berjiwa petualang tinggi (dibalik sifat2 jelek lainnya). Mengenai jiwa petualang tinggi, siapa yg akan menyangkal? Di seantero indonesia ini dengan mudah akan ditemui orang batak. Karena memang sedari kecil sudah ditanamkan jiwa perantau, bahkan itu menjadi suatu kebanggaan kalau bisa merantau. Harapan setiap org tua di kampung adalah agar anaknya merantau dan jangan balik lagi, karena itu tandanya anaknya sukses.

Fenomenanya adalah, kebanyakan yg pada akhirnya gagal dan tak sanggup survive di perantauan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung, dan tinggal di sana sampai akhir hayat. Sedangkan yg sudah berhasil, tak pernah lagi ingin kembali dan tinggal di kampung, bahkan kalau bisa membawa org tua nya ke kota dimana dia tinggal sekarang ini.

Mari kita bayangkan saat hal ini berlanjut terus 3 sampai 4 generasi. Hasilnya, banyak org batak sukses di seluruh indonesia ini, tp yg tinggal di kampung sana adalah anak2 muda yg dianggap sebagai non survivor. Ada celah yg sangat besar antara orang kampung dan orang kota. Ditambah lagi dengan sifat dasar org batak yg punya ego sangat tinggi sekali, org kota akan mencibir orang kampung, dan orang kampung mencibir orang kota dengan alasan masing2.

Sementara org kota sibuk memalingkan wajah dari kampungnya, kampung kita itupun semakin didesak dan dipenuhi oleh org2 dari luar dan bukan org batak, beranak pinak, dan kawin silang dengan org batak tanpa tersadar ciri khas org batak semakin lama semakin terkikis krn makin maraknya percampuran itu.

Sementara itu org kota sudah lupa dengan jati dirinya. Sehingga pertanyaan seperti “dimana kampungmu?” akan melahirkan jawaban sebuah nama kota, di luar sumatera utara. Bukan lagi sebuah pertanyaan yg dapat melahirkan kedekatan batin karena ternyata, misalnya, kampung kedua pihak sama atau berdekatan.

Lalu akan ada org yang berkata “ah, itu hanya kekhawatiran berlebihan. Orang batak itu nggak akan pernah mati”. Mari kita lihat faktanya. Pernah ketemu dg org batak yg sudah lahir dan besar di luar sumatra utara yg masih pada kisaran umur seorang pemuda? Coba suruh berbahasa batak. Berapa yg bisa, berapa yg tidak bisa. Coba tanya apa itu Dalihan Na Tolu. Coba tanya apakah ada niatnya untuk mempelajari bahasa batak. Coba tanya ada berapa org yg masih ingin ada acara adat di pesta pernikahannya. Itu baru mengenai orang batak kota.

Sekarang kita lihat orang batak kampung. Tarutung yg terkenal sangat kental dengan kebatakannya. Dengar pembicaraan masyarakat di kehidupan sehari2, ada berapa komunikasi yg masih dilakukan dalam bahasa batak? Kebanyakan orang2nya sudah ngomong pakai bahasa indonesia. Daerah Toba Samosir deh biar lebih dekat ke akar org bataknya. Masuk ke rumah makan dan coba pesan makanan. Berapa banyak yg masih melayani anda dengan bahasa batak? Lalu ada yg akan bilang “ya mungkin mereka bukan org batak jadi wajar kalo nggak bisa bahasa batak”. Silahkan anda coba kunjungi beberapa kota besar seperti Palembang, Bandung, Jogjakarta. Anda akan melihat orang batak tapi mahir berbahasa palembang, org batak yg mahir berbahasa sunda, dan org batak yg mahir berbahasa jawa. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Tapi kayaknya nggak berlaku di kampung kita sana.

Saat ini, kalau ketemu orang dan kita bertanya dimana kampung, kita masih bisa melanjutkan percakapan itu hingga menunjukkan detail lokasi dan lawan bicara masih tau dimana itu letaknya. “Oh yg diujung pertigaan itu ya? Yang setelah telkom itu kan, seberangnya lapo?” “Iya benar, yang nggak jauh dari gereja hkbp itu. Dulu gerejanya di hkbp itu kan kita?”

Saat ini kita masih bisa berbicara pakai bahasa batak dengan teman kalau ingin melakukan pembicaraan rahasia, atau mau melucu dengan lebih pas lucunya dan merasa eksklusif karena yg lain nggak ngerti tanpa ada yg sibuk berkomentar “roaming woy roaming, pakai bahasa indo napa?”

Dan beberapa generasi kemudian, yg tersisa dari orang batak hanyalah marga. Marga yg sebersit mengingatkan bahwa dulu mereka adalah bagian dari sebuah suku yg seharusnya bisa jadi luar biasa, dan hanya itu.

Mudah mudahan saya salah.

Kategori:Uncategorized

Hallo lagi

Hai, sudah lama ya nggak ngepost blog lagi. Sudah nggak ada semangat, Dan rata2 sigh nggak terlalu banyak bahan yg bisa diangkat lagi sekarang. Masa2 kesenangan terhadap jurnalistik sudah hilang.

Tapi….

Sekarang sudah ada fasilitas supaya visa nulis. Mudah2an dengan adanya fasilitas ini membuat kegiatan menulis Jadi semakin rutin

Yang pasti yg bakal pengen banyak ditulis itu pastinya tentang budaya batak lagi. Jadi, next postnya aja deh mulai nulisnya…🙂

Kategori:Daily Life

Nulis Blog

Letting go of the past

Kategori:Uncategorized

Like a homeless

There was a time when i felt like i belong to somewhere place

where i feel save and joy

where i could laugh to my heart extend

where i know that i had so many friends

in joyful or in sorrow

a place that i feel love and be loved

a place that i go back to after every stressful day

and relieve my stress and cheer up my night

a place that i could say home.

 

But now,

everything change

no more thing that make me laugh

no more thing that make me joy

everybody just gone, change

they say that i changed, in fact they also change, but they don’t realise

it’s not a place that i turn to when i have a stressful day anymore

it become a place that make me feel even more saddened

and i could no more feel any love around

that it’s not like my home anymore

 

where is my home?

where is the place that i belong?

is it still here?

is it not here anymore?

is it already the time to look for a new home?

Kategori:Uncategorized