Beranda > Uncategorized > Terkikisnya mentalitas batak

Terkikisnya mentalitas batak

Judul yang aneh dan sangat kontroversi, tapi ini fakta dan harus diceritakan. Walaupun hanya sekedar suara hati, tp ada keinginan untuk membagikannya.

Siapa yg gak pernah dengar suku batak? Begitu dengar org batak, pasti langsung terbayang dengan sifat yg keras, tegas, bersuara besar, mentalitas tinggi, disegani, dikagumi, cerdas, dan berjiwa petualang tinggi (dibalik sifat2 jelek lainnya). Mengenai jiwa petualang tinggi, siapa yg akan menyangkal? Di seantero indonesia ini dengan mudah akan ditemui orang batak. Karena memang sedari kecil sudah ditanamkan jiwa perantau, bahkan itu menjadi suatu kebanggaan kalau bisa merantau. Harapan setiap org tua di kampung adalah agar anaknya merantau dan jangan balik lagi, karena itu tandanya anaknya sukses.

Fenomenanya adalah, kebanyakan yg pada akhirnya gagal dan tak sanggup survive di perantauan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung, dan tinggal di sana sampai akhir hayat. Sedangkan yg sudah berhasil, tak pernah lagi ingin kembali dan tinggal di kampung, bahkan kalau bisa membawa org tua nya ke kota dimana dia tinggal sekarang ini.

Mari kita bayangkan saat hal ini berlanjut terus 3 sampai 4 generasi. Hasilnya, banyak org batak sukses di seluruh indonesia ini, tp yg tinggal di kampung sana adalah anak2 muda yg dianggap sebagai non survivor. Ada celah yg sangat besar antara orang kampung dan orang kota. Ditambah lagi dengan sifat dasar org batak yg punya ego sangat tinggi sekali, org kota akan mencibir orang kampung, dan orang kampung mencibir orang kota dengan alasan masing2.

Sementara org kota sibuk memalingkan wajah dari kampungnya, kampung kita itupun semakin didesak dan dipenuhi oleh org2 dari luar dan bukan org batak, beranak pinak, dan kawin silang dengan org batak tanpa tersadar ciri khas org batak semakin lama semakin terkikis krn makin maraknya percampuran itu.

Sementara itu org kota sudah lupa dengan jati dirinya. Sehingga pertanyaan seperti “dimana kampungmu?” akan melahirkan jawaban sebuah nama kota, di luar sumatera utara. Bukan lagi sebuah pertanyaan yg dapat melahirkan kedekatan batin karena ternyata, misalnya, kampung kedua pihak sama atau berdekatan.

Lalu akan ada org yang berkata “ah, itu hanya kekhawatiran berlebihan. Orang batak itu nggak akan pernah mati”. Mari kita lihat faktanya. Pernah ketemu dg org batak yg sudah lahir dan besar di luar sumatra utara yg masih pada kisaran umur seorang pemuda? Coba suruh berbahasa batak. Berapa yg bisa, berapa yg tidak bisa. Coba tanya apa itu Dalihan Na Tolu. Coba tanya apakah ada niatnya untuk mempelajari bahasa batak. Coba tanya ada berapa org yg masih ingin ada acara adat di pesta pernikahannya. Itu baru mengenai orang batak kota.

Sekarang kita lihat orang batak kampung. Tarutung yg terkenal sangat kental dengan kebatakannya. Dengar pembicaraan masyarakat di kehidupan sehari2, ada berapa komunikasi yg masih dilakukan dalam bahasa batak? Kebanyakan orang2nya sudah ngomong pakai bahasa indonesia. Daerah Toba Samosir deh biar lebih dekat ke akar org bataknya. Masuk ke rumah makan dan coba pesan makanan. Berapa banyak yg masih melayani anda dengan bahasa batak? Lalu ada yg akan bilang “ya mungkin mereka bukan org batak jadi wajar kalo nggak bisa bahasa batak”. Silahkan anda coba kunjungi beberapa kota besar seperti Palembang, Bandung, Jogjakarta. Anda akan melihat orang batak tapi mahir berbahasa palembang, org batak yg mahir berbahasa sunda, dan org batak yg mahir berbahasa jawa. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Tapi kayaknya nggak berlaku di kampung kita sana.

Saat ini, kalau ketemu orang dan kita bertanya dimana kampung, kita masih bisa melanjutkan percakapan itu hingga menunjukkan detail lokasi dan lawan bicara masih tau dimana itu letaknya. “Oh yg diujung pertigaan itu ya? Yang setelah telkom itu kan, seberangnya lapo?” “Iya benar, yang nggak jauh dari gereja hkbp itu. Dulu gerejanya di hkbp itu kan kita?”

Saat ini kita masih bisa berbicara pakai bahasa batak dengan teman kalau ingin melakukan pembicaraan rahasia, atau mau melucu dengan lebih pas lucunya dan merasa eksklusif karena yg lain nggak ngerti tanpa ada yg sibuk berkomentar “roaming woy roaming, pakai bahasa indo napa?”

Dan beberapa generasi kemudian, yg tersisa dari orang batak hanyalah marga. Marga yg sebersit mengingatkan bahwa dulu mereka adalah bagian dari sebuah suku yg seharusnya bisa jadi luar biasa, dan hanya itu.

Mudah mudahan saya salah.

Kategori:Uncategorized
  1. Agustus 5, 2014 pukul 1:42 am

    Tolong saya mau belajar bahasa Batak… Ada tidak kamus batak untuk android ya?…

    • April 3, 2016 pukul 4:42 pm

      Ada kamus batak – bahasa Indonesia. Bonpas camp. Cari aja di google play. Tapi biar lebih mudah ikuti aja perkumpulan muda mudi batak marga disekitar rumah kamu, percuma baca kamus, lebih baik dengarkan langsung tutur bahasanya ingatlah cara baca dengan tulisan itu berbeda. Kalau tulisannya datar aja, nanti aslinya di ucapkan agak naik notasi suaranya mendekati 5 okta, jadi lebih baik langsung praktek aja

  2. April 3, 2016 pukul 4:32 pm

    Benar tuh boru batak toba juga galak kali pun, belum pernah jumpa boru batak toba yg lembut bicaranya, isi bahasanya sopan, saya juga marga batak toba tapi bicaranya biasa aja, berusaha lembut. Kalau jumpa aku cewek batak toba yg bicaranya lembut dan sopan ku pacari langsung.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: