Arsip

Archive for the ‘Batak Culture’ Category

Buku Ende HKBP Online

April 22, 2009 28 komentar

Kemaren asik facebookan, trus baru tau dari lae Eko Manalu kalo ada orang yang nulis seluruh isi buku ende HKBP di blognya (woow kk woow). Penasaran, aku main2 kesana. Ternyata betul, dia nulis lengkap (ga lengkap2 banget sih, masih ada 2 nomor yang blm ditulis) seluruh isi buku ende. Didorong rasa penasaran, aku langsung meluncurkan ide yang ada dalam benakku. Hasilnya? Tadaaaa!!

http://shadowkid.izihost.org/index.php

Credits :
Ecko Manalu (http://www.facebook.com/note.php?note_id=64612262346&ref=mf)
Todung Lumbantoruan (http://todung.wordpress.com/2008/05/01/buku-ende-nyanyian-gereja-hkbp/)

Special Thanks To : Joel (13504144)

Comment is highly welcomed.

Iklan

Kebahagiaan orang tua?

November 24, 2008 6 komentar

Tadi habis jalan2 di sekitar blog (aka blogwalking) trus nemu sebuah blog yang bagus banget.

Blognya isinya kartun, tapi kartun orang batak. Yang punya orang batak. Kartunnya bagus2 dan inspirating. Buat yang non batak, mungkin tidak bisa menikmati semuanya, karena kebanyakan berbahasa batak (wah berarti orang batak yang ga bisa bahasa batak jg ga ngerti? Makanya belajar bahasa suku sendiri!). Saran saya sih, coba eksplor2 blognya.. Keren2 kok, dan kebanyakan lucu2.

Salah satu yang menurut saya lucu banget itu yang yang saya ambil disini. Ini bercerita tentang kenyataan yang mungkin terjadi pada setiap anak rantau.

Kuliah di luar Sumatra Utara (merantau) benar2 jadi kebanggaan buat orang tua kita. Sampai2 sering menceritakan hal ini kemana2 di kampung sana. Bukan main bangganya orang tua itu.

Tapi yang namanya Bandung atau Jogja, tantangannya memang besar. Bukan rahasia lagi, dua kota ini dijuluki sebagai kota penggoda. Bandung yang dipenuhi dengan wanita2 yang cantik2, modis, gaya, sekseehhh, dan Jogja yang terkenal dengan Mahasiswi2 yang sudah tidak perawan lagi. Bukan tidak mungkin hal diatas dapat terjadi

Yang tadinya diharapkan orang tua untuk mendapat gelar insinyur, malah dapat gelar “Ama ni Encep/Bapak si Encep” atau “Ama ni Joko/Bapak si Joko”

Eniwei, ini kartun emang lucu. Mengingatkan kita bahwa kenyataan itu ada dan terjadi. Mengingatkan kita untuk tetap fokus pada tujuan kita merantau, dan tetap menjadi kebanggaan orang tua.

Jadi ingat, walau seberapa jauhnya pun merantau, orang batak tetap memegang prinsip “Hamoraon, hagabeon, hasangapon”

Kategori:Batak Culture

Budaya Batak – Legenda Batu Gantung

Oke, kali ini kita akan bicara tentang salah satu legenda yang populer dari tanah batak. (tuh tuh, langsung pada ngumpul depan monitor kalo dah ngedenger tentang legenda.. dasar anak-anak..) Soal legenda, tanah Batak (Tano Batak) gak kalah dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Beberapa yang terkenal itu Legenda Danau Toba dan Legenda Batu Gantung.

Sekarang sih lagi pengen cerita yang legenda Batu Gantung aja dulu. Yang legenda Danau Toba, ntar aja. Soalnya itu legenda yang paling seru sih. (Tuh kan penasaran jg akhirnya.. sabar.. sabar)

Tau ga Batu Gantung? Batu gantung adalah batu yang digantung (atau tergantung?). Ya terserah aja lah gimana persepsinya. Pokoknya batu gantung itu ya batu… yang bergantungan… hehehe. Oke lewat. Maksudnya, kok bisa sih batu tergantung? Apa batu itu sudah mulai berani melawan kekuatan alam yang bilang bahwa grafitasi membuat semua benda jatuh ke arah bumi? Wah baru jadi batu aja dah sok banget. Hehehe bukan.. bukan.. bukan karena itu. Tapi tuh batu emang menempel dan tergantung di tepi sebuah bukit.

Cerita batu gantung ini ada beberapa versi sih. Tapi ntar kita mau coba ngeliat versi mana yang paling kita sukai… hehehe

Alkisah hiduplah seorang putri Radja raja, yang mana rajanya bernama Sisingamangaraja X (Catatan, ‘Si’ yang di depan Sisingamangaraja bukan panggilan untuk seseorang yah. Itu emang namanya), dan dimana putrinya bernama Pinta Omas boru Sinambela. Di lain tempat, hiduplah seorang wanita, yaitu adik perempuan dari Sisingamangaraja X yang bernama Nai Hapatihan. Nai Hapatihan menikah dengan seorang Aceh, dan melahirkan anak bernama Fakih Amiruddin.

Oke, mulai bingung. Stop dulu, tarik nafas dalam 3 kali, dan kita ulang lagi.

Jadi raja Sisingamangaraja X punya adik bernama Nai Hapatihan. Anaknya Sisingamangaraja adalah cewek bernama Pinta Omas. Dan Anaknya Nai Hapatihan adalah cowok namanya Fakih. Udah? Udah ngerti blom? Udah kan? Ya udah, lanjut lagi.

Nah, si Pinta Omas ini, ternyata bertemu dengan si Fakih dan saling jatuh cinta (berjuta rasanya, disentuh dibelai amboi rasanya). Jangan tanyakan mengapa, karena ku tak tau. Oke selesai ngemengnya. Lanjut lagi. Kalo dilihat dari Tarombonya Batak, Maka Pinta Omas ini adalah Pariban dari Fakih. Oleh sebab itu mereka semakin jatuh cinta..

Namun, seperti di sinetron-sinetron Indonesia lainnya, hubungan mereka tidak disetujui oleh Raja Sisingamangaraja X. Salah satu versi menyebutkan karena bila mereka menikah, maka Fakih akan saingan Sisingamangaraja X (aduh panjang, capek ngetiknya) untuk merebut kedaulatan di Tanah Batak. Hohoho kalo ini ternyata tentang kekuasaan, bukan uang.

Versi lain menyebutkan bahwa si Pinta Omas ternyata udah dijodohin sama orang yang berketurunan Ningrat, berkasta tinggi, dan menjadi kepercayaan sang bapak. Wah masih jaman Siti Nurbaya nih.

Karena hubungan mereka tidak disetujui, dan karena mereka sudah sangat jatuh cinta, maka dalam kekecewaan, dan tangisan yang menyayat hati, si Pinta Omas berlari keluar rumahnya, menuju ke tepi bukit. Di situ dia menghirup nafas 3 kali, berbalik sejenak untuk memandangi rumahnya dari jauh sambil berlinang air mata penuh kekecewaan, dan sambil mengelus anjing kesayangannya, (oke, sampe sini hiperbola. Tapi yang anjingnya beneran!!) ia melompat dari tebing menuju ke danau Toba disusul oleh anjing kesayangannya.

Tidaaaaaakkk

Tetapi tak diduga tak dinyana (bahasa apa ya?) kakinya si Pinta Omas tersangkut akar pohon. Sehingga ia tidak terjatuh melainkan tergantung di tepi bukit itu. Dan kemudian Ia menjadi Batu.

Versi lain mengatakan bahwa Pinta Omas akhirnya mau menikah dengan pilihan Ayahnya. Namun karena tidak suka, maka sejak menikah, mereka tidak pernah melakukan *piiiiipp* sekalipun. Setiap malam sang suaminya malah duduk termenung menghabiskan malam di bawah kolong rumah. Akhirnya sang putri menyadari bahwa suaminya itu mempunyai keterbelakangan mental. Akhirnya sang putri pun kecewa, dan dalam kekecewaannya karena tidak pernah *piiiiipp* ia pergi ke tebing dan melompat ke danau. Namun tersangkut akar pohon, dan tergantung di sana.

Hingga saat ini, kalo kita datang berwisata ke Sumatera Utara, kita masih akan melihat bentuk sebuah batu menyerupai manusia yang tergantung di tepian sebuah jurang. Di sana kita akan merasakan bagaimana kesedihan ketika cinta tidak terbalas. Dan kita akan semakin menghargai betapa indahnya dan mahalnya harga sebuah Cinta sejati. Kita pun diingatkan, bahwa cinta tidak dapat dipaksakan. Cinta akan memilih sendiri kapan, dimana, dan siapa. Sebab cinta, kekuatannya melebihi langit, dan menembus cakrawala. Serta kesucian sebuah cinta, bahkan lebih suci dari pada cawan anggur seorang perawan. (wakss… apaan nih??)

Oke deh, segitu dulu tentang legenda Batu Gantung. Di waktu yang berikutnya, kita akan membahas tentang Legenda Danau Toba. Byee

[to be continued]

*edited : saya lihat banyak yang tidak suka dengan gaya bicaranya. Maaf, namanya juga postingan tahun 2007, waktu bloging lagi awal marak2nya… jadi bahasanya masih suka main2. Maaf ya kalau ada yang tersinggung*

GwBatak

Budaya Batak – Panggilan dalam suku batak

HORAS!!!

Nah sekarang kita akan melihat, kalo dalam suku batak itu, ada panggilan apa aja. Jujur aja soal ini aku jg ga ngerti banget. Abisnya ada banyak sih



Selain panggilannya banyak, udah gitu banyak mengalami distorsi sehingga ada panggilan yang asli dari sononya, dan ada panggilan yang pada akhirnya mengalami perubahan. Panggilan ini erat kaitannya dengan Tarombo. Ato yang biasa disebut silsilah keluarga (padahal asal sebut..).

Oh ya, suku batak juga memiliki keunikan yang berbeda dari suku-suku lainnya. Karena suku batak memiliki apa yang disebut Marga (sudah tau lah ya) dan Nomor Generasi. Nah, biasanya dengan mengetahui marga dan nomor generasi seseorang, kita bisa tau dengan mudah (katanya sih mudah loh) bagaimana kita memanggil orang tersebut. Salah memanggil bisa berabe loh.

Sebelum dimulai, dicontohin deh tentang Marga dan No. Generasi. Cthnya aku, aku bermarga Panggabean dengan No. Generasi 16. Dari sini kita bisa tau bahwa Ayahku Panggabean-15 (utk selanjutnya kt sebut gini aja ya no. generasinya) dan Opung laki-lakiku Panggabean-14. Maka anakku nanti akan menjadi Panggabean-17 dan cucuku Panggabean-18 (Waddoooh, dah jauh nih omongannya.. cucu booo)

Baiklah, lanjut aja. Berikut ini adalah panggilan yang digunakan dalam suku Batak :

  • Abang
    Panggilan sesama pria (antara pria dan pria), yang adalah
    1. Kakak kandung
    2. Yang bermarga sama, dengan No. Generasi setingkat, tetapi No. Urut lebih tinggi.
    Contoh: Keturunan Gultom Hutapea, memanggil Abang kepada Keturunan Gultom Hutatoruan, yang memiliki No. Generasi sama (sama-sama Gultom, namun Hutapea lebih muda daripada Hutatoruan).
  • Akkang, Kakak
    Panggilan sesama wanita (antara wanita dan wanita), yang adalah
    1. Kakak kandung
    2. Kakak lelaki dari suami
    3. Wanita semarga dengan No. Generasi sama, tetapi urutan lebih tinggi (lebih tua)

     

  • Anggi, Adik
    Panggilan sesama wanita (yang wanita manggil yang wanita) atau sesama pria (yang pria manggil yang pria), yang adalah
    1. Adik kandung
    2. Adik lelaki dari suami
    3. Adik perempuan dari istri
    4. Semarga, dan No. Generasi sama, tetapi urutan lebih rendah (lebih muda)
  • Ito
    Panggilan dari pria kepada wanita atau sebaliknya (yang beda jenis kelamin), dengan aturan:
    1. Saudara pria/wanita dalam satu keluarga (saudara kandung, beda jenis kelamin)
    2. Pria/wanita semarga dengan No. generasi sama
    3. Wanita dengan no. generasi lebih tinggi memanggil Ito kepada pria semarga dengan No. generasi lebih rendah
    4. Anak laki-laki/perempuan dari saudara perempuan ibu
    5. Pria/Wanita sesama suku Batak yang tidak semarga

     

  • Lae
    Panggilan sesama pria, kepada:
    1. Saudara laki-laki dari pihak istri/saudara ipar laki-laki
    2. Suami dari saudara perempuan
    3. Anak lelaki dari Tulang
    4. Anak lelaki dari namboru
    5. Laki-laki sesama suku Batak yang tidak semarga
    Nah yang ini tuh biasanya buat yang baru ketemu dan ga tau manggil apa. Jadi kalo sama2 cowok, biasanya panggil Lae dulu

  • Eda
    Panggilan sesama wanita, kepada:
    1. Saudara perempuan dari pihak suami/saudara ipar perempuan
    2. Istri dari saudara laki-laki
    3. Anak perempuan dari Tulang
    4. Anak perempuan dari Namboru
    5. Wanita sesama suku Batak yang tidak semarga
    Sama dengan Lae, tapi yang ini untuk sesama cewek. Bisa dipakai kalo belum tau harus manggil apa

  • Amang Tua, Bapak Tua, Pak Tua (pilih salah satu ^^):
    Panggilan untuk pria, yang adalah:
    1. Kakak kandung ayah
    2. Semarga, dan memiliki No. Generasi setingkat dengan ayah (satu tingkat diatas kita), yang nomor urutnya lebih tinggi (lebih tua dari ayah).
    Contoh: Toga Gultom memiliki 4 orang anak yaitu Hutatoruan, Hutapea, Hutabagot, dan Hutabalian (Urut dari yang paling tua sampe yang paling muda). Anak-anak dari Hutapea memanggil Amang tua kepada Hutatoruan, demikian pula anak dari Hutabagot dan Hutabalian. Demikian pula anak dari Hutabagot memanggil Amangtua kepada Hutapea. Demikian seterusnya.
    3. Suami dari kakak perempuan ibu, baik langsung maupun tidak langsung, yang semarga dengan ibu (maksudnya kakak perempuannya yang semarga dg ibu. Nah suaminya itu dipanggil Bapak Tua).

  • Inang Tua, Mama Tua, Mak Tua:
    Panggilan untuk wanita, yang adalah:
    1. Istri dari Amang Tua
    2. Kakak perempuan ibu baik langsung maupun tidak langsung yang semarga dengan ibu (kakak perempuannya yang semarga. Ga ngerti jg yah?).

  • Amanguda, Bapauda, Uda (Panggilan untuk cowok)
    Kebalikan dari Amang Tua. Kalo Amang Tua adalah kakak, maka Amanguda adalah adik (panggilan untuk sodara laki-laki bapak yang lebih muda dari bapak).

  • Inanguda (Panggilan untuk cewek)

    Kebalikan dari Inang Tua. Kalo Inang Tua adalah kakak, maka Inanguda adalah adik perempuan ibu yang semarga dengan ibu. Ga harus adik kandung sih. Adik sepupu ibu jg boleh asal masih semarga. Juga panggilan buat istrinya Uda.

  • Inangbaju
    Sebutan untuk Saudara perempuan ibu yang belum menikah. Pada saat ini, sebutan ini umumnya diganti menjadi Tante, mengikuti perkembangan zaman.

  • Namboru
    Panggilan untuk wanita, yang:
    1. Saudara perempuan dari ayah, baik langsung maupun tidak langsung yang semarga dengan ayah. Bisa lebih muda, bisa lebih tua
    2. Semarga, dengan No. Generasi lebih tinggi (berarti setingkat ayah). Inget, panggilan utk wanita.
    Untuk wanita, kalau no. gererasi lebih tinggi 2 tingkat atau lebih, tetap dipanggil namboru.

  • Amang Boru
    Panggilan untuk pria, yang adalah suami dari namboru.

  • Tulang

    Panggilan untuk pria yang adalah:
    1. Saudara laki-laki dari ibu
    2. Pria yang semarga dengan ibu, dan memiliki No. generasi setingkat dengan ibu

  • Nantulang
    Panggilan untuk wanita, yang adalah istri dari Tulang (simple huh?)

  • Opung Doli

    Panggilan untuk pria, yang:
    1. Ayah dari ayah/ibu (kakek laki2 kandung dari ayah ato dari ibu)
    2. Paman dari ayah/ibu (ini berarti sodaranya kakek laki2 ayah ato ibu)
    3. Semarga dengan no. generasi 2 tingkat lebih tinggi (satu marga kita, tapi setingkat opung)
    4. Semarga dengan ibu dengan no. generasi 1 tingkat lebih tinggi dari ibu (satu marga ibu, tapi setingkat opung)

    Cth : Saya Panggabean, ibu saya boru Pangaribua. Yang kupanggil Opung Doli adalah kakek laki2 saya dari ayah (berarti sama2 marga panggabean), dan kakek laki2 dari Ibu saya yang bermarga Pangaribuan. Dan juga

  • Opung Boru
    Panggilan untuk wanita, yang adalah istri dari Opung Doli (maksudnya ya Nenek, ntah dari ayah ato dari ibu)

  • Pahompu
    sebutan untuk cucu

  • Anak
    Sebutan untuk anak

  • Parumaen
    Sebutan untuk menantu perempuan

  • Simatua, Mertua
    Sebutan untuk mertua

Oke, segini dulu yang aku kasih. Sebenernya bisa lebih banyak lagi. Banyak banget malah. Tapi ini yang standarnya. Nanti bakal ditambahin lagi (soalnya harus nanya para tua-tua dulu.. aku ga tau semua sih..)

HORAS!!
[to be continued]

Kategori:Batak Culture

Budaya Batak – Pentingnya sebuah keluarga

Juni 28, 2007 3 komentar

HORAS

Oke, sekarang saya akan membahas bagaimana keluarga dalam adat Batak. Mengenai keluarganya dan sifat-sifatnya. Lumayan untuk membuat kamu mengerti bagaimana jalan pikiran keluarga Batak.

Untuk catatan, budaya batak menganut yang namanya sistem Patrilineal yang artinya garis keturunan ayah. Maka itu, semua anak yang lahir akan memakai marga yang sama dengan ayahnya. (Bukan!! bukan dengan ibunya). Karena ibu dianggap sebagai pendatang di keluarga ayah. Dan juga secara otomatis, marga ayah sama dengan marga ayahnya ayah (kakek/opung) (Patrilineal.. inget inget!!). Sehingga marga cucu pasti sama dengan marga kakek (bukan nenek). Hehe kayak yang muter-muter yah. Nah yang dapet marga ayah ini ga cuma anak laki-laki, tetapi juga anak perempuan.

Dalam budaya batak, anak adalah harta paling berharga dalam sebuah keluarga. Oleh sebab itu, kelahiran seorang anak akan membawa pengaruh yang luar biasa dalam keluarga. Oleh sebab itu acara kelahiran biasanya dilakukan pesta yang luar biasa dengan acara-acara gereja (kebaktian) dan makan-makan. Dalam keluarga, anak laki-laki adalah anak yang berharga karena akan membawa marga dan nama keluarga. Sedangkan anak perempuan adalah anak yang disayang karena pada suatu saat anak perempuan akan meninggalkan keluarganya dan pergi bersama misua suaminya.

Anak pertama adalah anak yang paling dibanggakan (biasanya sih) karena akan menjadi ciri khas dalam sebuah keluarga. Anak pertama selalu dituntut untuk bisa menjadi contoh, panutan dan teladan bagi adik-adiknya, ataupun menjadi sebuah kebanggaan bagi keluarga besarnya (keluarga satu opung, dan bahkan keluarga satu marga). Makanya kadang anak pertama suka bersikap seperti seorang bos. Di lain pihak, anak pertama juga merasakan beban tanggung jawab yang sangat besar dari keluarganya. Makanya biasanya anak pertama itu lebih tangguh untuk urusan survival.

Sedangkan anak terakhir menjadi anak yang paling dimanja (yang ini aku ga ngerti kenapa. Tapi biasanya sih gitu) Mungkin karena anak yang terakhir itu paling lucu yah? Oh ya, anak yang terakhir itu biasanya disebut Siampudan (baca : Siappudan). Selain anak pertama, anak siampudan juga yang sering dibanggakan oleh keluarga, walaupun lebih membanggakan anak pertama sebenernya. Tapi biasanya anak terakhir itu dapet fasilitas yang lebih dari saudara-saudaranya. Bahkan membuat saudara-saudaranya menjadi sangat iri padanya.

Sedangkan anak wanita (boru) adalah anak yang paling disayang dan dimanja juga. Walaupun terkadang kadarnya bervariasi dengan anak terakhir. Seperti yang sudah dibilang, anak boru disayang karena suatu saat dia akan dibawa pergi oleh suaminya dari keluarganya. Tidak hanya itu, ini juga karena biasanya, yang membantu ibu untuk melakukan pekerjaan rumah dan memasak adalah anak boru. Terlebih lagi ketika ada pesta, maka anak boru pasti yang akan turun tangan (secara sukarela) untuk pekerjaan bersih-bersih. Sangat membantu. Makanya disayang. Terlebih lagi bila dia adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga tersebut. Apa lagi kalo dia jadi anak perempuan satu-satunya, dan terakhir pula. Wuaduh, udah lebih-lebih putri kerajaan tuh. Ini lah juga sebabnya, biasanya adik perempuan itu disayang oleh abangnya. Walaupun terkadang pernyataan rasa sayang itu tidak diperlihatkan secara langsung (biasanya para abang gengsi untuk ngeliatin kalo mereka sayang sama adiknya. Jadinya pake cara lain utk memperlihatkannya).

Oke deh segitu aja dulu mengenai keluarga kecil batak. Mengenai keluarga besar batak akan dibahas lain waktu.


[to be continued]

Kategori:Batak Culture

Budaya Batak – Semua adalah saudara


HORAS

Hehe pasti pada bingung, kok semua adalah saudara. Ya emang gitu sih. Dalam silsilah Batak, persaudaraan itu sangat dijunjung tinggi. Makanya kalo Batak jaman dulu, kalo ada sodaranya yang diganggu, pasti seluruh saudara yang lainnya langsung balik nyerang dan ngebelain. Makanya perang antar suku Batak itu dulunya rame looh.

Baiklah kita kembali lagi. Dalam masyarakat Batak, siapakah yang disebut dengan saudaranya? Hmm… Jawabnya adalah : Semua adalah saudaranya, asalkan dia punya marga. Sebenernya sih gini :

  • Semua yang semarga dengannya adalah saudara yang mendekati saudara kandung. Cth : Igor Panggabean, berarti saudara dengan Tika Panggabean (walaupun sebenernya ga pernah ketemu n ga pernah saling kenal). Tapi kalo ketemu, pasti lagaknya kayak yang udah jadi saudara kandung aja. Pokoknya semua Panggabean adalah saudaraku
  • Semua yang semarga dengan boru (sebutan marga utk perempuan) Ibunya. Cth : Ibu (orang batak sering bilang “mamak”) saya adalah Pangaribuan. Berarti semua Pangaribuan adalah saudara saya yang mendekati saudara Kandung.
  • Semua yang semarga dengan boru (boru : sebutan marga utk perempuan) nenek dari ayah (opung boru). Cth : opung saya boru sitompul. Maka yang bermarga Sitompul juga adalah saudara saya. Bahkan yang bermarga sitompul akan menganggap saya sebagai cucu mereka sendiri
  • Semua yang semarga dengan boru (sama dengan marga) nenek dari ibu (opung boru). Cth : opung saya boru Hutahaean. Maka yang bermarga hutahaean adalah saudara saya juga. Saya dianggap sebagai cucu mereka juga
  • Semua yang semarga dengan boru atau marga dari istri atau suami saudara-saudara ayah. Cth : Ayah punya saudara laki-laki yang menikah dengan boru Simanjuntak. Maka saudara saya adalah semua yang bermarga Simanjuntak. Dan juga ayah saya punya adik perempuan yang menikah dengan marga Tobing. Maka yang bermarga Tobing adalah saudara saya juga. Bila saudara ayah ada 7, maka maksimal akan ada 6 marga lagi selain marga ibu yang akan menjadi saudara saya.
  • Semua yang semarga dengan boru atau marga dari istri atau suami saudara-saudara ibu. Cth : Sama dengan atas, tapi ini diambil dari saudara-saudara ibu. Bila saudara ibu ada 12, maka maksimal akan ada 11 marga selain marga ayah yang kana menjadi saudara saya.
  • Semua yang merupakan satu kelompok marga dengan saya. Contoh : saya Panggabean. Dan yang sekelompok marga dengan saya adalah Lumban Tobing, Lumban Siagian, Simorangkir dan Hutapea. maka yang bermarga tersebut adalah saudara saya juga. Mengenai kelompok marga akan dibahas di postingan yang lain.
  • Semua yang merupakan satu kelompok marga dengan ibu saya. Cth : .. waduh saya kurang tau kelompok marga ibu saya (Pangaribuan) apa aja… maaf ada yang bisa bantu?
  • Semua marga lain yang menikah dengan seseorang yang bermarga saya atau kelompok keluarga saya. Tapi ini udah dianggap saudara jauh sih. Cth : Saya Panggabean. Jadi kalo ada orang lain yang menikah dengan orang yang bermarga panggabean (atau kelompoknya : Lumban Siagian, Lumban Tobing, Simorangkir, Hutapea), karena panggabean sudah dianggap keluarga sendiri, maka orang lain tersebut juga dianggap saudara sendiri.
  • Semua marga lain yang menikah dengan seseorang yang bermarga ibu saya atau kelompok keluarga ibu saya. Cth : Sama dengan atas. Yang ini prioritas hubungannya sudah lebih rendah dari yang diatas

Waaaah, ternyata saudaraku banyak juga yah? Nah coba aja kalian buat struktur pohon dari bentuk diatas, dan buat daftar marga saudara sesuai dengan prioritas. Berarti, yang menjadi saudaraku itu buanyak banget. Yang diatas aja belum semua yang ditulis.

Sistem persaudaraan ini, dalam adat batak sangat berpengaruh ketika seseorang mengadakan pesta. Akan ada aturan adat yang mengatakan ketika seseorang mengadakan pesta, maka marga atau siapa-siapa saja yang WAJIB, HARUS, KUDU, MUSTI diundang ke acara itu. Dan kalau orang yang seharusnya diundang itu tidak diberikan undangan, maka hal ini akan dianggap sebagai penghinaan terbesar kepada keluarga yang seharusnya diundang dan dianggap seperti pemutusan hubungan keluarga. Demikian juga sebaliknya. Bila ada keluarga yang diundang namun mereka tidak datang (dan bahkan tidak mengirimkan perwakilan) maka hal ini akan menjadi penghinaan yang besar kepada keluarga yang mengundang dan dianggap seperti pemutusan hubungan kekeluargaan. (Hati-hati jadi orang batak! hehe)

salah-salah bisa dapet kartu merah

Sekian dulu mengenai persaudaraan keluarga Batak. Nantikan review selanjutnya

GwBatak

Kategori:Batak Culture

Budaya Batak – Introduction

Horas !!!

Pasti dah pernah denger orang bilang kata di atas kan? Ya, itu memang kata sapaan dari masyarakat suku batak. Suku batak memang termasuk suku yang paling ternama dan terkenal di Indonesia. Lihat saja, masyarakat suku batak memiliki pengaruh yang cukup tinggi di Indonesia. Dimulai dari penyebarannya yang merata sampai ke seluruh Indonesia, sampai posisi penting yang pasti ada dihuni oleh masyarakat dari suku batak. (Sayangnya presiden Indonesia belum ada yang dari suku batak yah..)

Suku Batak mula-mula adalah suku pribumi yang belum mengenal peradatan (pada awalnya). Agama asli yang dianut adalah kepercayaan animisme yang disebut dengan Parmalim oleh suku batak. Agama ini bisa dikatakan merupakan sebuah kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang tumbuh dan berkembang di Tanah Air Indonesia sejak Dahulu Kala. “Tuhan Debata Mulajadi Nabolon” adalah pencipta Manusia, Langit, Bumi dan segala isi alam semesta yang disembah oleh “Umat Ugamo Malim” (“Parmalim”). Jadi sejak awal, suku Batak memang sudah mengenal Tuhan, yang mereka percayai sebagai sang pencipta, namun belum mengenal siapa itu penciptanya.

Wilayah penyebaran suku batak mula-mula tidak terlalu luas. Hanya di sekitar daerah Sumatera Utara, Kota Subulussalam, Aceh Singkil dan Aceh Tenggara. Namun seiring dengan perkembangan waktu, mulai terjadi penyebaran hingga saat ini suku batak mendiami seluruh daerah di Indonesia

Suku batak adalah suku yang lekat dengan adatnya. Adat itu sendiri telah mengalami pergeseran makna hingga saat ini, sesuai dengan kedatangan agama kepada masyarakat suku Batak. Karena pada awalnya, adat tersebut dilaksanakan untuk menyembah atau berdoa kepada raja-raja batak yang telah mati, orang yang sudah mati, dan lainnya yang tidak sesuai dengan agama. Namun saat ini adat tersebut telah diubah sedemikian rupa sehingga digunakan untuk upacara agama juga, dan untuk kesenangan saja.

Mengenai Adat Istiadat dan Budaya Batak, akan dibahas di postingan yang lain…


[to be continued]

GwBatak

Kategori:Batak Culture