Beranda > Uncategorized > Degradasi Budaya sebuah Komunitas

Degradasi Budaya sebuah Komunitas

Kemarin, waktu lagi iseng, baca sebuah buku, sekilas aja sih (cuma bagian pendahuluan. haha) tapi dari situ justru dapat sesuatu yang bagus. Intinya tentang Degradasi Budaya.

Sebuah komunitas, besar maupun kecil, mulai dari lingkup sebuah organisasi kecil, ataupun hingga lingkup sebuah negara, pasti akan berkembang, dan akan terus berkembang. Hanya saja perkembangan ini ada dua arah, yaitu perkembangan ke arah yang benar, sesuai dengan tujuan dan dasar komunitas tersebut, atau malah ke arah yang semakin berlawanan. Apapun itu, komunitas itu pasti akan berkembang, seiring dengan waktu dan jaman.

Sehingga bisa disimpulkan, demikian juga yang akan terjadi terhadap budaya, perilaku, tata cara, prinsip, atau kebiasaan (untuk selanjutnya dirangkum saja menjadi Budaya) yang ada di komunitas itu, akan ikut berkembang pula. Sehingga bukan tidak mungkin, pada satu komunitas yang sama, namun dalam generasi yang berbeda akan terdapat perbedaan budaya, yang bisa mencolok atau tidak, yang bisa semakin baik atau bahkan sebaliknya.

Yang namanya budaya sebuah komunitas agar tetap bertahan dan sesuai dengan dasar komunitas tersebut, maka budaya tersebut harus selalu dilahirkan kembali dan kembali pada setiap generasi. Yang namanya melahirkan memang tidak pernah mudah. Tapi kalau tidak dilahirkan kembali, maka jangan heran bila pada generasi berikutnya akan terdapat perbedaan budaya yang semakin terdegradasi, sehingga bukan tidak mungkin bila generasi Tua datang kembali, maka mereka akan segera angkat kaki karena sudah tidak nyaman lagi pada komunitas tersebut.

Demikian juga halnya bila didalam sebuah organisasi mahasiswa, atau organisasi gereja sekalipun. Sebuah organisasi mahasiswa harus terus menerus melahirkan kembali budaya yang sudah ada dan turun temurun. Demikian juga organisasi gereja harus terus melahirkan kembali Kekristenan yang sudah ada turun temurun, bila tidak ingin pada generasi berikutnya, kekristenan itu menjadi sesuatu yang semakin bias dan tidak jelas.

Masalahnya adalah, proses melahirkan kembali budaya harus dilakukan oleh setiap generasi, dan dilakukan oleh generasi tua pada generasi muda. Yang lebih rumit lagi, tidak boleh dilakukan oleh satu atau dua orang saja. Satu generasi harus mampu melakukannya bersama-sama.

Saya sudah melihat, sebuah organisasi yang tidak melahirkan kembali budaya pada generasi berikutnya, yang terjadi bukannya generasi muda mengikuti gaya generasi tua (komunitas) tapi malah generasi tua harus mengikuti gaya generasi muda, sehingga terjadilah sebuah komunitas yang sama namun budayanya menjadi berbeda. Lucu dan miris sebenarnya.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: