Beranda > Christian Life > Sebuah Kenangan Konser Piano

Sebuah Kenangan Konser Piano

Sampai sekarang, masih bisa kuingat dengan jelas pengalaman kecil waktu itu. Sebuah pengalaman kecil yang sekarang membawaku menjadi seperti ini.

Waktu itu, umurku masih sekitar 6 tahun. Masih awal-awal untuk mengikuti sekolah SD kelas 1. Waktu itu, aku dibawa oleh ayahku ke sebuah sekolah musik yang terletak di dekat pusat kota. Jalanan ramai, mobil-mobil memenuhi pemandangan. Sekolah musik itu terletak tepat di persimpangan jalan, disebelah sebuah toko roti yang selalu menebarkan wangi kue-kue di setiap senja, serta sebuah toko buku yang sering kukunjungi hanya untuk melihat buku cerita bergambar.

Singkat cerita, aku didaftarkan untuk mengikuti kursus piano. Guru pianoku, seorang wanita paruh baya cantik, yang selalu kupanggil dengan sebutan “miss”. Belakangan aku baru tahu, kalau dia punya seorang adik perempuan yang sama cantiknya dan juga pengajar piano di sekolah musik yang sama. Setiap minggu sekali, selama satu jam, aku datang ke sekolah musik yang sama, bertemu dengan miss yang sama dan belajar di piano yang sama. Masih dapat kuingat bahwa lagu pertama yang mampu kumainkan dengan baik adalah “Twinkle twingkle little star”, lagu anak-anak yang masih sering kudengar setiap pagi dikala ayahku menyetel TVRI.

Suatu hari, sekolah musikku mengadakan konser bagi para murid yang belajar. Pada saat itu, aku tidak begitu tertarik dengan konser ini. Malah cenderung melelahkan menurutku, karena kami harus mempelajari lebih banyak lagu seperti biasanya, dan kami dituntut untuk tidak boleh salah dalam bermain. Sebuah kondisi yang tidak menyenangkan bagi anak kecil yang baru saja belajar piano. Namun demikian, tetap kuikuti juga. Pada akhirnya, aku diberi kesempatan untuk memainkan dua buah lagu. Sederhana memang. Benar-benar lagu yang layak untuk dimainkan oleh anak kecil saja.

Sampai tiba saatnya hari konser. Konser dimulai sore hingga malam hari. Namun kami harus datang dari pagi untuk mencoba permainan kami diatas panggung. Aku dan ayahku datang menjelang jam makan siang. Ruangan yang kami masuki sangat besar sekali. Penuh dengan bangku yang bersusun kesamping dan ke atas. Panggungnya berbentuk oval dengan tirai melengkung di kanan dan kiri yang dapat menutup seluruh panggung. Di bagian atas terdapat banyak lampu-lampu yang menerangi kursi penonton, maupun beberapa lampu yang sangat terang untuk menyinari panggung. Dua buah piano diletakkan di sisi kiri panggung dalam satu barusan menghadap kursi penonton. Di sebelah tengah panggung terdapat sebuah organ, dan di sisi kanan panggung ada tiga buah kursi dan pijakan kaki. Sepertinya untuk yang bermain gitar. Sebentar saja aku naik ke atas panggung dan mencoba bermain. Beruntunglah aku diperbolehkan untuk menggunakan partitur. Selepasnya uji coba panggung, aku dan ayahku pulang untuk bersiap-siap.

Menjelang sore, aku, ayahku dan ibuku pergi menuju tempat konser. Sampai disana, aku melihat miss ku datang menjemputku. Katanya aku harus segera ke ruang persiapan bersama dia. Ayah dan ibuku pergi ke arah yang berbeda. Sepertinya mereka menuju pintu masuk untuk membeli tiket pertunjukan. Sesampainya di belakang, aku kemudian menuju ke salah satu kursi yang sudah berisi barisan anak-anak yang kukenal sebagai sesama pelajar piano dasar. Di seberang kursi kami, tampak beberapa orang tua yang bolak-balik mengantarkan anak mereka masuk. Bahkan ada seorang teman yang menangis sejadinya ketika akan ditinggal oleh ibunya. Miss ku tampak sangat sabar menghadapi anak yang ini. Namun didalam pikiran seorang anak kecil sepertiku, konser ini tak lebih seperti hari kursus biasa, namun disaksikan oleh tambahan beberapa orang tua. Aku masih anak kecil waktu itu.

Tiba saat giliranku. Missku datang dan menggandeng tangganku. Dia membawaku masuk ke panggung, berjalan ke tengah panggung dan berdiri sebentar sebelum memberi hormat. Kulihat kedepanku dan aku terkejut melihat betapa banyaknya orang-orang yang memandang kami. Sambil sedikit gemetar, aku mencari dimana orang tua ku. Sebentar saja sudah kutemukan. Ternyata mereka duduk pada barisan ketiga dari depan. Saat aku memandang mereka, merekapun tengah memandang dan melambaikan tangan kepadaku. Akupun melambai kepada mereka. Sesaat hatiku menjadi lebih tenang, walau sesaat kemudian aku merasakan gentar sekali lagi melihat semua mata yang memandangku waktu itu.

Miss ku mengajakku duduk di piano di depan, melewati piano yang ada di belakang. Kupikir, piano yang belakang itu pastilah suaranya buruk. Aku duduk di piano dan miss ku pergi kebelakang meninggalkanku. Aku tak berani melihat kemana dia pergi. Aku terlalu gugup, mengetahui ada banyak orang didepanku sedang memperhatikanku. Kemudian aku membuka partiturku, kuletakkan di piano seperti biasanya, membaca sekilas pada bagian judulnya. Judul lagu itu adalah “Twingkle-twingkle little star”. Kemudian kubaca nada dasarnya, ketukannya dan kemudian kuulurkan tanganku menyentuh tuts piano di depanku. Akupun mulai bermain.

Pada awalnya aku bermain seperti biasa kulakukan. Permainan yang sepi, dengan satu jari saja menekan tuts piano. Aku berpikir tak ada yang menarik dalam permainan lagu ini. Ingin rasanya kuselesaikan di tengah jalan saja. Bosan. Ya, bosan memainkan lagu itu itu saja. Namun tak lama, aku mendengar suara yang berbeda. Kudengar permainanku menjadi semakin ramai. Lagunya menjadi semakin indah. Denting yang terdengar lebih banyak dari tuts yang kutekan. Aku tak tahu apa yang terjadi, namun aku merasakan sebuah kesenangan untuk meneruskan permainan piano ini. Selama latihan belum pernah kudengar permainanku menjadi seindah ini. Indah sekali, bahkan sangat indah. Dan aku meneruskan permainanku sampai akhirnya.

Ketika selesai, aku berdiri di belakang pianokudan mendengar bahwa banyak orang bertepuk tangan dengan antusias kepadaku. Bahkan beberapa orang bertepuk tangan sambil berdiri dan mengangguk-anggukkan kepala. Mereka semua bertepuk tangan, lama sekali. Kulihat mereka semua tersenyum padaku. Dan aku pun tersenyum lebar sekali. Ternyata permainanku sangat bagus bagi mereka. Sebuah tepuk tangan yang telah membuatku senang sekali, mengingat aku baru belajar beberapa lama. Dan aku tersenyum bangga. Saat itu aku beranikan kepalaku untuk melihat kebelakang. Dan aku melihat miss ku pun sedang berdiri sambil tersenyum. Dia berdiri di balik piano yang ada di belakangku. Di piano itu juga aku melihat ada partitur yang terbentang.

Terkadang, kita bersikap seperti anak kecil. Kita bangga dengan apa yang telah kita buat. Kita merasa kebanggaan yang luar biasa akan apa yang orang lain puji. Tapi kita lupa, bahwa itu terjadi karena ada Tuhan di dekat kita. Sebagai anak kecil, sebenarnya kita tidak tahu apa-apa. Kita tidak bisa apa-apa, dan semua yang kita lakukan dapat menjadi sia-sia. Tapi karena ada bantuan Tuhan di dekat kita, apa yang kita lakukan dapat menjadi luar biasa. Sekalipun hal itu hanya sederhana dan kecil. Tuhan yang mengajari kita dari awal, hingga kita dapat melakukan sedikit. Namun dia tetap membantu kita, sehingga yang sedikit itu dapat menjadi luar biasa. Semoga kita selalu ingat, bahwa dengan Tuhan, sesuatu yang kecil sekalipun dapat menjadi luar biasa.

Kategori:Christian Life
  1. Daniel
    Maret 23, 2009 pukul 7:25 pm

    cerita yang sangat menarik. pernah terlintas dibenak sy dan pernah terkhayalkan oleh sy untuk mengalami pengalaman seperti ini. di mana kita sebagai ank kcl yg polos, bermain dengan perasaan seperti biasa seperti ketika kursus dan Tuhan & orang tua yang mendampingi kita hingga kita dapat bermain dengan perasaan yg lbh menyenangkan ketika kita telah mulai memainkannya.

    nice story… ^^ I like it…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: