Munafik

Wah, judulnya berat nih. Iya, ntah kenapa tiba2 saja terlintas dalam pikiranku mengenai kata ini.

Akhir-akhir ini aku banyak menemui orang-orang yang munafik. Atau setidaknya orang-orang yang menurutku munafik (kalau aku boleh menilai). Tapi mungkin itu hanya penilaian pendek-dengan-seenaknya-tanpa-pikir-panjang. Semoga saja aku yang salah, tapi sampai saat ini, aku merasa bahwa aku benar.

Banyak orang yang dekat denganku, tampak begitu hebat dari luar. Kata-katanya seperti orang bijaksana. Tampak seperti orang yang penuh perhatian, begitu hangat dan pengertian. Penuh dengan nasihat-nasihat membangun.

Tapi

Kehidupan sehari-harinya begitu berbeda dari apa yang mereka tampilkan padaku. Nasihat-nasihat yang dikatakan tidak mereka jalani sendiri. Mereka begitu pengertian, namun menusuk dari belakang. Mereka tampak bijaksana, tapi sering tak ubahnya seperti anak kecil. Apa yang tampak luar, ternyata hanya topeng belaka. Menasihati mengenai motivasi yang benar, tapi sendirinya tidak memiliki motivasi seperti itu.

Bagiku, tidak ada yang berhak mengatakan padaku “jangan begini, jangan begitu” kalau dia sendiri masih melakukan hal yang dia sendiri larang. Sok suci, tapi sampah. Hanya menimbulkan kepahitan dalam diri. Bukannya menjadi berkat, malah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Sedihnya lagi, mereka berpayung dalam sebuah organisasi pelayanan. Sebuah organisasi yang seharusnya suci, tapi diisi oleh sampah-sampah munafik macam mereka.

Entah mereka yang busuk, atau aku yang terlalu berharap yang ideal? Mereka yang salah, atau aku yang salah? Haruskah aku pergi, atau harusnya menyesuaikan diri saja?

Teman-teman, aku harus apa?

Kolose  3:23 “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”

  1. Oktober 6, 2008 pukul 2:58 am

    Kebetulan ‘tergoda’ dengan status lo di YM😀
    Jadi inget beberapa perkataan di alkitab..

    * Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (Jesus)

    * Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. (Jesus)

    * Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. (Paul)

    Tempat terbaik bagi terang adalah ditempat gelap & tempat terbaik bagi garam adalah ditempat tawar. Ya ga? hehe. Kesanggupan kita adalah pekerjaan Allah. God be with you always, my bro😀

    Igor says : Waw, Yo, thanks berat. Your words really relieved me. Udah lama aku ga dapet pencerahan. Kemaren2 emang aku sempat emosi banget sama orang2 kayak gitu. Aku tau seharusnya tidak menghakimi, namun ntah kenapa, i did it. Mengenai perkataan yang kedua, aku baru tau kalo Yesus pernah bilang hal yang seperti itu. Sekarang, i know what i have to do. Thanks berat nih

  2. Oktober 6, 2008 pukul 8:38 am

    Sama kaya Bung Yo, gua juga kesini gara2 status YM elo Gor, hehe.

    Kalo ketemu orang2 seperti itu, idealnya gua selalu berusaha melihat seberapa baiknya saran yang mereka berikan terlepas dari siapa yang memberikan saran itu. Kalau saran itu baik, ya kenapa tidak kita ikuti?

    Jika ternyata orang yang memberikan saran itu ternyata malah tidak menjalankan saran yang dia berikan, malah dia yang rugi sendiri karena ngga bisa jadi diri yang lebih baik dari dirinya yang sekarang.

    Terakhir, idealnya gua bakal berusaha berpikir positif dan beranggapan orang2 yang ngasih saran tapi ngga ngejalanin saran itu sendiri punya prinsip: “do as I say, not as I do”. Gua bakal beranggapan tindakan mereka sama seperti tindakan paman gua yang ngelarang gua buat ngerokok padahal sendirinya perokok berat, karena dia ngga pengen gua kecanduan seperti dia.

    Tapii Gor, kata kunci dari semua poin2 gua di atas itu ‘idealnya’. Kenyatannya bakal mudah sekali buat gua untuk merasa marah, dibohongi, sedih, kecewa, dan perasaan2 negatif lainnya. Setelah semua itu lewat (dan gua hanya manusia biasa yang bakal jujur kalo terkadang gua butuh waktu lama sampai perasaan2 itu lewat), baru gua bisa berusaha mendekati saran tersebut dengan cara seperti yang gua bilang di atas.

    After all, we’re only human.

    Iya Bam, aku juga ngerti kalo kenyataan itu sulit sekali bila dibandingkan dengan keadaan ideal. Sama dengan apa yang aku rasain kemaren2. Dan akhirnya aku menyerah kepada emosi daripada berpikir sehat. Don’t know what happened to myself these days. Tapi kalo ada perokok berat mengatakan supaya jangan merokok kepadaku, biasanya aku sindir balik, walaupun tetep aku ga akan merokok jg pada akhirnya. That’s just the way of me.

  3. Oktober 6, 2008 pukul 1:12 pm

    Bagiku, tidak ada yang berhak mengatakan padaku “jangan begini, jangan begitu” kalau dia sendiri masih melakukan hal yang dia sendiri larang.

    Kalau standar ini diterapkan dengan tegas, maka tidak ada seorangpun di dunia ini yang berhak menasihati orang lain mengenai masalah moral-spiritual (itu termasuk pastor/pendeta/penatua kita) kecuali Tuhan Yesus sendiri, karena toh tak ada yang bisa menjamin si penasihat kelak tidak akan pernah jatuh ke dalam dosa yang dahulu pernah ia larang.

    Dan dengan standar yang sama, anda juga tidak berhak melarang mereka untuk menasihati orang lain dengan munafik. Apakah anda sendiri sudah begitu sombongnya untuk mengklaim bahwa anda tidak pernah munafik dan tidak akan pernah munafik?😉

    Solusi saya serupa dengan komentar kedua di atas, ambil saja yang baik dari nasihat itu dan berusaha untuk tidak terpengaruh oleh perilaku mereka yang mengecewakan. Sudah kodratnya kalau daging itu lemah dan kerap jatuh dalam pencobaan meski kita mati-matian berusaha hidup lurus…

    Igor says: Iya, bener banget bro. Posting ini memang secara implisit paling pertama ditujukan buat diriku sendiri. Aku ga mengklaim bahwa aku ga munafik, malah sebaliknya, karena aku termasuk orang2 yang muna, maka aku tulis. So this post is firstly intended to me. Baru yang kedua utk orang2 lain yang merasa atau tersentil. Anyway, kita masih hidup di dunia. Blm ada yang bisa hidup lurus seperti Yesus. But i just try to remind those people who is like me.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: