Beranda > Curhat Life > Mayoritas dan Minoritas

Mayoritas dan Minoritas

Hmm, mungkin ini adalah sebuah postingan yang akan menjadi serius, namun saya hanya mengharapkan sebuah feedback yang membangun, bukan sekedar cacian dan makian. Ingat, tulisan ini tidak untuk menambah hit blog sama sekali. Saya sih tidak peduli. Oke, kita mulai.

Tidak dipungkiri, sejak dahulu sudah ada yang namanya mayoritas dan minoritas. Kedua kelompok ini adalah bagian dari masyarakat yang akan dan selalu ada. Tidak dipungkiri lagi terdapat perbedaan di antara keduanya. Sebuah perbedaan yang sebenarnya cukup besar, namun selalu saja tidak disadari oleh kedua belah pihak. Salah satu perbedaannya adalah perbedaan tingkah laku kepada golongan non sejenis.

Percaya atau tidak, di jaman sekarang ini, masyarakat sudah berusaha untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang bersinggungan dengan keadaan mayoritas atau minoritas. Terutama di Indonesia ini. Namun sayangnya, hal ini belum benar-benar terjadi. Yang ada hanyalah masyarakat negara ini takut untuk bersinggungan dengan hal ini, dan akhirnya menutup diri dari kenyataan bahwa mayoritas dan minoritas itu ada. Fatalnya, sikap seperti ini tidak mengubah pola tingkah laku kepada golongan non sejenis.

Contohnya, di negara ini, orang kaya adalah mayoritas dan orang miskin adalah minoritas. Setuju kan? Apa lagi yah? Suku Batak adalah minoritas, namun suku Jawa adalah Mayoritas. Setuju? Keturunan Indonesia adalah mayoritas, sedangkan keturunan Tiong Hoa adalah minoritas. Termasuk agama Islam adalah mayoritas dan agama Kristen adalah minoritas. Dari semua yang disebut diatas, segalanya adalah hal-hal yang memang berbau SARA. di Indonesia ini, menyinggung SARA itu katanya dapat mengganggu ketenteraman hidup bermasyarakat.

Mari kita tilik lebih lanjut, tentang bagaimana Mayoritas bertindak terhadap minoritas dan bagaimana minoritas membalas perlakuan Mayoritas. Lihat bagaimana orang kaya bertindak terhadap orang miskin. Coba, pergi ke luar, ke perempatan jalan. Perhatikan berapa banyak pengamen, anak jalanan, peminta-minta yang ada. Perhatikan pula berapa banyak pengendara bermotor berseliweran. Lihat kan perbedaannya disana?

Contoh lagi, bagaimana perilaku masyarakat Indonesia terhadap keturunan Tiong Hoa. Datanglah ke Universitas negeri manapun di Indonesia. Hitunglah, berapa banyak keturunan Indonesia, dibandingkan dengan keturunan Tiong Hoa di kampus itu. Datanglah ke Universitas Swasta. Coba hitung lah? Dan tariklah kesimpulan sendiri kenapa bisa sampai seperti itu.

Yang paling menarik adalah Agama. Dan kemudian sebagian pembaca akan berkata “Hei, itu tabu”, “Hei, sudahlah, untuk apa agama dibahas”, “Wah, agama sih memang ga pernah habis”, “Malas ah, rumit, ribet, dll” dan akhirnya pembicaraan tentang ini tenggelam bersama dengan datangnya waktu. Tapi, ayo lah, hal ini nyata dan terjadi. Agama ada di setiap manusia. Perbedaan perlakuan antar umat beragama pun terjadi. Tapi terserah saja, yang mau membaca, silahkan teruskan ke paragraf di bawah, yang tidak mau baca, ya skip saja paragraf di bawah. Tapi mungkin anda akan melewatkan 1 kenyataan lagi yang terjadi dalam hidup anda.

Coba sebut, agama apa yang menjadi Mayoritas di Indonesia ini (Islaaammm)? Coba sebut, agama apa yang menjadi minoritas di negara ini (Kristeeen, Katoliiiik, Budhaaaaa, Hinduuuu). Bahkan yang terakhir, agama Hindu, mungkin segelintir masyarakat bahkan tidak tau bahwa di Dunia ini ada agama Hindu. Perlu saya buktikan? Tidak usah, lanjut saja. Masyarakat Indonesia ini tau, bahwa hal ini adalah hal paling sensitif yang dapat terjadi. Perdebatan mengenai agama saja dapat berujung pada peperangan, perubahan peraturan, pendiskriminasian, sinisme berkepanjangan, sampai tuduhan pelanggaran hukum. Dan pada akhirnya, siapa yang dimenangkan coba?? (Mayoritaaaasss) Dan apa yang terjadi pada kaum minoritas? (Diem aja luh. belagu lagi, gua bantaaaiii) Ok, memang terlalu berlebihan. Tapi coba kita lihat deh. Apa yang terjadi ketika film FITNA muncul di dunia? Apa yang terjadi ketika ada yang berusaha menyerang sebuah agama Mayoritas. Jawab sendiri lah yah. Lalu, coba, pergi ke gramedia, lihat buku bagian “Agama”, “New Released”, atau “Popular Books” dan lihat buku2 sejenis yang berjudul “Yang tak mungkin dijawab orang Kristen”, “Kesesatan Kristen”, “Jasad Yesus ditemukan”, “Injil Yudas”, “Injil Maria Magdalena”, dll yang tidak ada dalam alkitab. Ga usah jauh2 deh. “Da Vinci Code”. Siapa yang tidak tau, belum pernah membaca, atau menonton filmnya? (sayaaaa). Dan kemudian, coba perhatikan, apa yang dilakukan oleh sebuah agama minoritas ketika ajaran agamanya di serang? Dan silahkan lakukan perbandingan. Mengapa film FITNA dengan cepat dihapus dan bahkan dibuat peraturan pelarangannya, sedangkan film “Da Vinci Code” dan film lain2nya yang ada menyentil tentang “Ajaran Kristen itu tidak benar” dapat dengan tenang beredar di bioskop2 seluruh Indonesia? Tidak usah jauh2. Film “Ayat-ayat Cinta”. Jujur saya tidak pernah nonton atau baca novelnya, tapi dari cerita adik saya yang sudah nonton, saya tau lah ceritanya kira2 gimana. Tapi sebelumnya maaf kalo saya salah yah. Di cerita itu, ada seorang Kristen yang pada akhirnya “Mualaf” (Itu ya sebutannya di Islam? Saya tidak tau, maaf kalo salah) dan berpindah dari agamanya demi Cinta. Berikutnya saya tidak tau dan tidak mau tau. Maaf, don’t bother me with that. Bahkan presiden menghimbau masyarakat Indonesia untuk “wajib” menonton film ini. Tapi, coba kalau ada film yang bercerita tentang seorang beragama “Islam” yang berpindah ke agama kristen demi Cinta. Mungkin kah film seperti ini akan pernah muncul di bioskop Indonesia? Mungkin kah presiden akan menghimbau untuk menonton film seperti ini? Sekarang kita lihat tayangan TV. Berapa banyak sih sinetron dll yang sejenis yang bernuansa dan menyebarkan ajaran Islam muncul di layar kaca? Seberapa sering iklannya muncul? Seberapa banyak sponsornya? Seberapa kaya itu para artis2nya? Ada berapa season kah sinetron itu? Pada jam2 berapa film itu ditayangkan? Bandingkan dengan sinetron yang bernuansa Kristiani. Mungkin sebagian akan bertanya, emang pernah ada yah? Ya wajar sih kalo keberadaannya saja tidak diketahui. Iklan saja sangat jarang, dan iklannya ada pada jam2 non strategis tertentu. Sinetronnya saja diputar pada jam2 tengah malam. Tidak pernah tuh sampe season 2. Sponsor? Tunggal. Di Channel apa diputar? Cuma RCTI (CMIIW). Artis2nya siapa aja? Yang pasti jarang yang dikenal dan bisa sampe seterkenal Farel dan Fitri lah. Coba kita putar balik. Kalo film nuansa Islam dan nuansa Kristen diperlakukan terbalik? Jangan2 saluran TV swasta dilarang beroperasi di Indonesia. Balik lah kita ke jaman TVRI dulu. Disini memang banyak dibahas antara Islam dan Kristen yang mencakup Protestan dan Katolik. Lalu dimana agama lain nya? Budha? Hindhu? Wah maaf, kalian sudah terlalu minoritas di negara ini. No Offense, tapi agama kalian jarang di perdebatkan sih. kita sesama agama minoritas sih lebih baik menjaga kelanggengan dan saling menghormati.

Lihat kan? Mayoritas itu selalu lebih kuat dan berusaha meminimaliskan para minoritas. Mayoritas = super power. Minoritas = kelaut aje. Tapi katanya Indonesia ini adalah negara bebas? Bebas berekspresi? Bebas berpendapat? Negara Pancasila? Pembukaan UUD aja masih disebut2 di upacara SD. Eh, SD sekarang masih suka ada upacara ga sih? Katanya indonesia ini Bebas kan. Tapi kok sepertinya kebebasannya hanya ada kepada golongan Mayoritas ya? Mana kebebasan untuk minoritas? Kalo orang miskin berdemo, langsung aja diusir, dipentung, ditangkapin. Tapi kalo orang kaya apalagi pejabat2 yang langsung main belakang dan serah terima uang, mulus lah.

Prihatin memang. Indonesia sudah mulai kehilangan persatuannya. Indonesia sudah mulai dikuasai oleh kaum mayoritas, dan kaum minoritas hanya bisa bersabar dan mau menerima keadaan apa adanya. Tanpa disadari, kedewasaan sebenarnya lebih terlihat pada kaum minoritas. Inilah kenyataan negara kita. Negara yang penuh dengan “katanya..” “katanya..” sementara yang ada adalah “Faktanya..” “Faktanya..” yang selalu berusaha di tutup2in dan terus mengedepankan yang “katanya..” “katanya..” itu.

Terima kasih sudah mau membaca dan berkomentar. Sekali lagi, tulisan ini tidak untuk menyerang salah satu pihak, bukan pula sebuah bentuk jeritan hati kaum minoritas, tapi sekali lagi, tulisan ini hanya mengemukakan fakta, dan bentuk penagihan kepada kebebasan yang katanya ada di Indonesia ini. Inilah bentuk kebebasan berpikir saya.

Kategori:Curhat Life
  1. April 28, 2008 pukul 5:26 am

    huehehe.. my unspoken mind revealed! =D
    di antaranya tentang toko buku dan film-film itu.. -_-‘

    hm.. makanya kaum minoritas harus punya pengaruh dan berdampak positif di lingkungan masyarakat supaya benar-benar diperhitungkan keberadaannya..

  2. roberto
    April 28, 2008 pukul 6:35 am

    that’s life.🙂

  3. April 28, 2008 pukul 7:43 am

    If that’s life, then i prefer dead…

    .

    .

    just joking😀

  4. April 28, 2008 pukul 8:52 am

    Jadi pengen comment niy …

    Sebenarnya bukan masalah mayoritas ato minoritas. Cuma pada dasarnya, yang namanya penganut agama tertentu pasti bakalan membela agamanya. Kalau misalnya ada umat dari agama minoritas yang tidak memprotes adanya buku/film yang melecehkan agama mereka, itu berarti memang pemeluknya yang menginginkan seperti itu.

    Bicara soal buku yang beredar yang mengulas (maaf) kekeliruan beberapa ajaran kristen, saya merasa sah2 saja. Asalkan di buku itu diperjelas sumber dan analisis nya. Sehingga kalau ada umat kristen yang menganggap itu tidak benar, dapat dengan segera membantahnya. Saya juga menemukan kok buku sejenis yang isinya menguraikan tentang kekeliruan ajaran islam yang ditulis oleh seorang pendeta (maaf lupa namanya).

    Kalau kasus film fitna, problemnya adalah, si pembuat film ketika melihat ada umat islam yang radikal, langsung men-judge bahwa teroris adalah ajaran islam. Bahkan dia mengutip AlQuran dengan persepsi yang keliru. Itulah yang akhirnya diprotes.

    Kalau AAC, menurut saya, si tokoh utama wanita, tidak berpindah agama karena cinta. Di sana diperlihatkan kalau pada awalnya, dia telah membaca (bahkan menghapal) AlQuran. Jadi, perpindahan agama di sana karena memang dia memahami ajaran agama barunya, dan dia merasa cocok dengan agama itu.
    Hal itu biasa kan dalam dunia nyata. Toh ada juga umat islam yang berpindah agama ke agama lain. Kalau yang dipermasalahkan kenapa pemerintah menghimbau untuk menonton film itu? Karena di sana diperlihatkan keindahan ajaran islam, yang bisa memperlihatkan bahwa tindakan terorisme yang selama ini ada bukanlah ajaran islam, tapi merupakan ulah pemeluknya. Jadi tujuannya jelas, untuk menyuarakan perdamaian.

  5. April 28, 2008 pukul 9:16 am

    Sekarang kita lihat tayangan TV. Berapa banyak sih sinetron dll yang sejenis yang bernuansa dan menyebarkan ajaran Islam muncul di layar kaca? Seberapa sering iklannya muncul? Seberapa banyak sponsornya? Seberapa kaya itu para artis2nya? Ada berapa season kah sinetron itu? Pada jam2 berapa film itu ditayangkan? Bandingkan dengan sinetron yang bernuansa Kristiani. Mungkin sebagian akan bertanya, emang pernah ada yah? Ya wajar sih kalo keberadaannya saja tidak diketahui. Iklan saja sangat jarang, dan iklannya ada pada jam2 non strategis tertentu. Sinetronnya saja diputar pada jam2 tengah malam. Tidak pernah tuh sampe season 2. Sponsor? Tunggal. Di Channel apa diputar? Cuma RCTI (CMIIW).

    Nah, klo yang ini saya juga ngerasa aneh. Setau saya siy produser sinetron indonesia sekarang ini rata-rata beragama Kristen dan Hindu. Bahkan AAC sekalipun lho … Jadi siapa yang salah donk ?

  6. April 28, 2008 pukul 9:19 am

    bahasan menarik, intinya saling menghargai ya antara mayoritas dan minoritas… Mayoritas hrs lebih menghargai dan adil thd minoritas, yang minoritas harus lebih bersikap dan tidak perlu merasa mayoritas tidak baik. Masalah minoritas mayoritas kaya gini ga terjadi di indonesia aja kan. Dan tidak hanya terjadi ketika islam yang jadi mayoritas. Di belahan dunia lain juga. Ketika kasus karikatur nabi terjadi di negara dimana islam jd minoritas, perasaaan kaum muslim di negara tersebut jg tdak diperhatikan dengan tetap memuat karikatur tsb.

  7. April 28, 2008 pukul 1:52 pm

    YOOOOOOOW…..

    Keknya gitu2an di Indonesia aja yah…..

    gw juga di negara orang ini termasuk banyak kategori yang minoritas, dan tak jarang dihujani dengan banyak pertanyaan2 aneh, dan asumsi2 aneh orang2….

    but… just answer with smile, and
    Enjoy ajah… (^_^)
    SEMANGAAAAAAAT!!!

  8. April 28, 2008 pukul 3:46 pm

    Setuju sama nana & Ooze. Gw juga pernah jadi minoritas, dan gw akuin, jadi minoritas itu ga gampang. Kadang-kadang (apa seringkali?) pihak mayoritas ga menyadari kalo mereka secara ga langsung, menyinggung pihak minoritas, karena ga pernah merasakan jadi minoritas. Gmana, cukup menjawab kah?

    BTW, emang orang kaya di Indonesia mayoritas, ya? Menurut gw sih, kalo yang kaya menindas yang miskin, itu karena merasa berkuasa… bukan mayoritas-minoritas…

  9. April 29, 2008 pukul 3:00 am

    Makasih buat komentarnya

    @ Widya : Makasih utk ulasan mengenai AAC nya. Tapi bukan karena apa dia berpindah agama yang ingin saya ulas, tetapi anda sendiri, apa yang anda rasakan ketika hal itu berbalik menimpa kaum anda (saat menjadi seorang mayoritas). Imagine that you’re the minority. Itu maksudnya.

    @ Ooze : Beda negara memang beda perlakuan. Kadang ada baiknya juga kita berada di negara lain, supaya kita juga ikut merasakan bagaimana menjadi seorang minoritas, dan semakin peduli sama yang minoritas saat kita kembali menjadi seorang mayoritas

    @ Ella : Itu lah yang kumaksud. Kita bisa menilai dimana kesalahan kaum mayoritas, saat kita sendiri menjadi seorang minoritas. Tulisan ini memang dibuat agar kita, saat kita menjadi seorang mayoritas, kita tetap mengingat apa yang kita rasakan saat menjadi seorang minoritas. Soal orang kaya itu, maksudnya ya biasanya seorang minoritas itu, karena sudah terpatri pada pola lingkungan, melihat seorang mayoritas sebagai seoarang yang besar, berkuasa. Orang kaya di mata orang miskin kan besar dan berkuasa. hehe rada ngaco yah??

    Sekali lagi, tulisan ini tidak hanya menyoroti keagamaan saja. Hanya saja agar kita menyadari, seperti Ella, bahwa saat menjadi seorang mayoritas, kita seringkali tidak menyadari pola perilaku kita terhadap minoritas itu dapat merugikan.

  10. haha
    April 29, 2008 pukul 4:00 am

    namanya juga manusia. buat mendapatkan banyak keuntungan kan perlu membidik si mayoritas ini.
    minoritas pasti terganggu.
    yang penting adalah keberadaan si mayoritas ini gak melanggar HAM.
    lagipula, power of mayoritas ini emang tumbuh secara alami, ketentuannya sengaja diciptakan tuhan pada kita.

  11. April 29, 2008 pukul 4:34 am

    hmm kadang begitulah kenyataan, ngga adil kesannya.
    Semua memang perlu kedewasaan befikir & bertindak, bukan mentang-mentang…
    btw..Nice posting.

  12. jendral besar
    April 29, 2008 pukul 5:57 am

    Benar, yang dikatakan igor. Seharusnya kita dapat membayangkan saat diri kita menjadi seorang minoritas. Apakah kita sikap kita itu akan merampas hak orang minoritas? Untuk saudara widya coba anda merubah pola pikir anda. Tulisan ini dimaksud bukan untuk agama, tapi untuk semua hal. Semoga semua yang membaca tulisan ini dapat merubah pola pikirnya dan tidak menulis komentar yang seperti dituliskan oleh widya yang sudut pandang terhadap tulisan ini masih belum terbuka.

    Untuk masalah agama, memang Indonesia masih kurang terbuka. Masih kurang menghargai orang lain, tidak pernah merasakan dirinya pada posisi orang lain. “Kalau ingin maju, silakan masuk agama gw” beginilah tag line yang tidak bisa dihilangkan. Dulu pola transmigrasi juga begini, harus tukar agama dengan agama *****. Baru boleh ikut transmigrasi. Ini merupakan salah satu contoh saja…

    Yang penting ayolah kita merubah pola pikir kita untuk masalah ini. Good Job untuk Igor….

    GBU

  13. jephman
    April 29, 2008 pukul 6:02 am

    Salah satu perbedaan minoritas di negeri macam Indonesia dengan minoritas di negeri macam Inggris, disana membangun masjid gak perlu minta tanda tangan 90KK, disubsidi pemerintah dan dijamin keamananannya beribadah.

  14. dee
    April 29, 2008 pukul 3:04 pm

    Halo Igor.. mau komentar dikit ya..

    Duh masalah SARA super sensitif nih, tapi tulisan kamu menarik loh. Hehe.. agama mayoritas di dunia ini apa ya?? Suku bangsa paling banyak di dunia apa ya??

    Masalah minoritas dan moyoritas kayanya relatif deh. Dulu pernah ada yang bilang ke gue (maap agak sinis) kalo gue lahir di suku yang salah dan milih agama yang salah. Ya itu karena gue lahir di Indonesia. Udah jadi keturunan suku yang minoritas, terus milih agama yang minoritas juga. Tapi tidak masalah, walopun kadang emang sangat menyakitkan permasalahan minoritas yang terpinggirkan ini.

    Satu lagi Gor, manusia bukan Tuhan, karena itu ga mungkin manusia mewujudkan yang namanya keadilan yang benar-benar adil. Termasuk di dalam masalah minoritas dan mayoritas ini. Karena itu udah dengan alami bahwa segala sesuatunya selalu mengikuti yang mayoritas, walopun itu dalam bentuk negara republik, komunis, dsb.

    Untuk masalah film “itu”, karena gue blon pernah nonton, gue cuma bisa bilang si pembuat keterlaluan dan reaksi pemerintah Indonesia berlebihan. Tapi apa boleh buat, penduduk Indonesia sebagian besar tidak cerdas dan masalah agama itu bahan bakar yang paling baik buat menyulut keributan, jadi pemerintah Indonesia emang harus bergerak cepat mengatasi masalah ini (walopun reaksinya berlebihan).

    Udah ah.. jadi kepanjangan😛

  15. April 30, 2008 pukul 4:31 am

    Makasih lagi buat komentarnya

    @haha : HAM itu apa aja sih? Bagaimana yang dikategorikan dalam HAM?

    @jephman : Perlakuan terhadap minoritas di Indonesia ini memang masih parah. Beda banget lah dengan negara berkembang atau maju lainnya.

    @dee : memang relatif. Makanya saya mau menyoroti yang ada di Indonesia saja. Supaya relatifitas itu makin berkurang. Saya setuju, manusia tidak mungkin menciptakan keadaan yang benar-benar adil. Namun masa tidak bisa menciptakan keadaan yang hampir mendekati adil? Saya setuju, penduduk Indonesia sebagian besar tidak cerdas, sehingga mudah tersulut dengan masalah yang “hanya segitu”. Sayangnya, hal ini makin menunjukkan ke”tidak cerdasan” oleh pihak yang merasa terganggu (mayoritas??)

  16. April 30, 2008 pukul 5:48 am

    I wanna be the minority
    I don’t need our authority
    Down with the moral majority
    Cause I wanna be the minority

    Lagunya Green Day…
    Hahaha…

    ——————————

    Gw sih selon-selon saja…
    Ga pernah musingin hal-hal kaya gitu…
    Jadi ribet sendiri…
    Haha…

    Btw, ada ya di gramed buku2 kaya gitu?…
    Kacau betul…

    Yah…
    Itu kayanya emang yang aliran ekstrimnya deh…
    Hweheheheh…

  17. April 30, 2008 pukul 6:46 am

    @ kuchay : percayalah, buku2 itu ada dan bebas dijual.. Tapi sayangnya, bila terdapat buku2 yang bertema penyudutan terhadap islam di Indonesia, percayalah, ga akan terbit deh kyknya chay, sekalipun aliran ekstrim yang ngeluarin. Tapi tenanglah, buku2 yg seperti itu tidak akan terbit kok.

  18. Mei 1, 2008 pukul 12:55 am

    Wawaw…
    Saya mah damai-damai saja deh…
    Hehe…

  19. catherinetbg
    Mei 2, 2008 pukul 6:55 am

    sulit sih gor. jadi minoritas.
    tapi aku merasa, disaat kita jadi minoritas, disitu ketangguhan dan daya juang kita diuji. so, disyukuri ajalah. ga mungkin kita diberikan rancangan yang jahat kan?
    piss bro!🙂

  20. dee
    Mei 2, 2008 pukul 11:36 am

    -> Igor:
    Hehe.. mendekati itu relatif juga loh. Dekat untuk satu kelompok blon tentu dekat buat kelompok yang laen. Miris sih liat kondisi masyarakat Indonesia yang tidak cerdas, ditambah perilaku petinggi-petinggi negara yang tidak cerdas (termasuk wakil-wakil rakyat kita). Jadi sekarang sabar aja Gor, toh kita percaya bahwa segala suatunya akan indah pada saatnya. Tul??

  21. Mei 5, 2008 pukul 6:41 am

    Wah, bahasan menarik🙂.
    Disini aku jg jadi kaum minoritas. Dan ga enaknya, ada yang memandang rendah saat aku minta waktu shalat. Mereka bilang, aku buang2 waktu dengan izin shalat. Waktu yang seharusnya bisa dipake buat kerja dan cari uang.

    Setuju sama cathy. Justru saat kita jadi minoritas, keimanan kita diuji🙂

  22. Rondut
    Mei 5, 2008 pukul 6:54 am

    kalau masalah mayoritas atau minoritas, gw rasa itu bergantung dari kedewasaan masing-masing. Idealnya sih yang mayoritas mau mengerti pihak minoritas, dan yang minoritas tidak bertingkah semaunya sendiri. Kalau ada orang yang mempertanyakan dirimu dan kamu bisa menjawab dengan baik dan tidak bereaksi marah dan bakar-bakar barang, itu artinya memang lu (atau iman lu) sudah dewasa, tidak perlu pengakuan atau mencari kesalahan iman lain. Kadang-kadang hidup memang demikian adanya – dan, kalau masalah sinetron atau film sih, bagaimanapun juga uang tidak punya agama :)).

  23. Mei 7, 2008 pukul 3:47 am

    @ Rondut : Uang tidak punya agama?? Hahahaha. Very2 funny. LOL

  24. Agustus 11, 2008 pukul 3:22 am

    nurut gw sih, siapapun bisa jadi kaum minoritas. Yang penting adalah adanya kesadaran untuk saling menghargai dan menghormati perbedaan. Perdamaian nggak mungkin dari salah satu pihak aja kan?? Sama halnya kayak orang salaman butuh dua telapak tangan. Kalo cuman satu doank, namanya menggenggam angin alias sia-sia, hehe.. So, be wise, be respect to others, be pieceful. GBU all

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: