Beranda > Daily Life > Jakarta, kota besar untuk pria kecil

Jakarta, kota besar untuk pria kecil

Yah, setelah satu minggu mencoba hidup di Jakarta, sepertinya Jakarta ini terlalu besar untuk pria biasa dan kecil seperti diriku ini. Kota ini terlalu majemuk, dan terlalu beragam dengan setiap sisi kehidupan. Mulai dari yang lembut sampai yang keras, yang terang sampai yang gelap, yang tinggi sampai yang rendah. Bagaikan kemajemukan sebuah negara, semua terkumpul dalam sebuah kota, bernama Jakarta.

Seperti pengalaman tadi pagi. Begitu aneh kalo melihat, terlambat keluar rumah 10 menit saja, mengakibatkan terlambat masuk kantor sampai setengah jam. Padahal kalo tidak telat keluar rumah, bisa sampai kantor 20 menit sebelum jam kantor. Ternyata tidak hanya itu saja perubahan drastis yang terjadi ketika kita terlambat di Jakarta. Bahkan emosi, gerakan, keras kepala, egois dan segala sifat buruk lainnya memuncak ketika terlambat.

Lihat aja, waktu tadi pagi naik bis, karena sudah terlambat, bis pun jadi penuh sesak. Namun untung aku masih bisa bergantungan di pintu bus. Namun tanpa diduga, 2 orang lagi ingin berebut naik bis dan langsung berpegangan pada pintu. Padahal kalo mereka mau mikir, udah ga mungkin lagi bisa masuk bis itu. Udah penuh sesak banget. Tapi mereka terus maksa dengan dorong2 aku supaya masuk ke dalam.

Yang di dalam bahkan teriak2 kalo udah ga bisa bergeser lagi. Aku pun udah ga bisa bergeser lagi. Eh, ga taunya, salah seorang yang maksa tadi langsung menendang, ya catet, MENENDANG kakiku , bahkan sampai berkali2 supaya kakiku bergeser masuk sambil dia teriak “MASUK DULU BANG!! SUDAH TERLAMBAT INI” Rasanya disitu emosi memuncak (memangnya semua yang di bus itu ga terlambat apa? Semua juga terlambat tau!). Ingin banget neriakin orang itu kalo udah ga bisa masuk lagi.

Langsung terpikir untuk mukul dan ngedorong orang itu. Kalo ngelihat dari posisiku sih, kalo aku dorong dan pukul orang itu, dia pasti jatuh, dan amanlah semua karena penyebab kesempitan bis pun hilang satu. Itu orang brengsek banget sih.. Tapi aku milih tetap tenang dan geser kakiku sedikit, sedikiiiiiiiit banget, sekedar supaya dia puas dan berhenti menendang. Tapi pada akhirnya dia ditegur kernet bus dan disuruh turun karena dah ga muat lagi.

Waktu ngeliat ke dalem, bahkan lebih parah lagi. Di bagian belakang sudah terlalu padet, sampe2 ada cewek yang marah-marah, ya catet, dia MARAH-MARAH karena katanya sih dia udah kegencet dan ga bisa bernapas. Dia minta orang di sebelahnya bergeser, yang pastinya ga mungkin karena ruang gerak saja udah ga ada lagi

Ga hanya itu, waktu di dalam perjalanan pun menjadi sangat menyulitkan, karena kepadatan di dalam bis, maka butuh waktu dan banyak upaya untuk yang didalam bila mau turun keluar. Masalahnya :

  • Yang duduk didalam mau keluar
  • Yang dideket orang yang duduk pengen ngerebut kursi itu
  • Yang menghalangi gerakan orang yang mau keluar ga bisa bergeser, karena memang dah ga bisa geser
  • Akhirnya yang mau keluar terpaksa merelakan dirinya agak mengecil dan memaksa bergeser diantara orang2 yang ga mau bergeser itu

Alhasil, jujur aja nih, aku jadi bergesekan dengan 1 Pria dan 3 wanita. Untung dengan yang pria, kami saling membelakangi, tapi dengan yang wanita, terpaksa saling berhadapan. Dengan sukses kudapatkan “bonus” di pagi hari, yang mana sama sekali ga kuanggap bonus tuh. Ya sudahlah, mau apa lagi. Semua memaksa dan ga ada yang mau mengalah…

Yang lain, pasti langsung pada iri nih, aku bisa dapet bonus di sela-sela waktu terlambat kerja

Jakarta, benar-benar kota yang terlalu besar untuk pria kecil sepertiku…

Kategori:Daily Life
  1. Juni 20, 2007 pukul 8:09 am

    dosa sungguh dosa.
    penderitaanya bakalan tiada akhir :))

  2. Juni 20, 2007 pukul 10:57 am

    “terlambat keluar rumah 10 menit saja, mengakibatkan terlambat masuk kantor sampai setengah jam”
    ah, gw waktu sma di bandung juga gitu kok…
    telat berangkat 5 menit, bisa telat masuk 30 menit… -_-;
    loe nya aja yg gak modern…😛
    hehehehe…

    btw, ceritamu keren juga, sangat bertualang… desak-desakan di bis gtu.. sekarang sih, gw dari kos tinggal jalan kaki ke kantor.. untungnya, dulu pas masih ngekos di BSD tapi kerja di Kuningan, gw gak sampe desak2an segitunya.. naik TransBSD dpt tempat duduk, bisa tidur pake AC🙂, trus ganti naik Kopaja 66, berdiri bentar, tapi dpt tempat duduk juga (tapi harus waspada, konon banyak copet -_-)..

    “Dengan sukses kudapatkan “bonus” di pagi hari”
    saya mauuuu… >:P
    hohohoho… bcanda loh..
    tp klo dpt, bersyukur saja😉
    *sejauh-ini-cuma-cuci-mata-saja-setiap-lewat-perbanas*😀

    anw, gudLak ya buat KaPe mu di lintasarta…
    jgn lupa kontraknya diurus tuh, jgn disepelein😉
    Gb!

    (Igor says : Emang ada kontrak ya gri? Kita di LA ga ada yang tau. Iya sih, aku selalu bertualang tiap pagi gini T__T untuk kalo pake bus, selalu yang AC. Biar mahal, asal tenang. Eh, memang bener sih, katanya di kopaja banyak copet. Kayaknya dah bukan rahasia umum lg deh..)

  3. retta
    Juni 21, 2007 pukul 8:39 am

    hehehehe…
    selamet ya bu…
    selamat datang di kota penuh kekacauan dan kontradiksi serta chaos….
    that’s why i don’t really like such a city….-_-
    i prefer bandung

    (Igor says : For the first time, i also think so. Tapi, duit yang beredar di Jakarta ini banyak. Jadi kesempatannya lebih gede. Cuma ya itu, harus keras!!)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: