Arsip

Arsip untuk Oktober, 2008

Penipuan di ATM Mandiri, keluarga kami kehilangan 10 juta

Oktober 31, 2008 Igor Panggabean 20 komentar

Jumat malam, adalah hari yang melelahkan baik fisik maupun mentalku. Tapi yang paling menyesakkan hatiku adalah beban mental yang tiba-tiba bertumpuk pada jumat malam ini. Mulai dari masalah dengan ibu kos, sampai sms dari ayahku yang langsung membuatku terlemas.

Sekitar pukul 20.39 WIB, ketika aku sedang berlatih paduan suara di gereja, sms datang dari ayahku, bunyinya seperti ini “Doakan bapak, uang bapak di atm dikuras orang sampai habis sekitar 10jt”. Sontak setelah membaca sms itu, seluruh tubuhku melemas, bagai tulang-tulangku seketika menghilang dari tubuh ini. “apa lagi ini?” kupikir. Ku balas sms itu dengan pertanyaan mengenai apa yang terjadi, dan aku pulang ke kosan. Sudah tidak ada lagi hasrat untuk berlatih paduan suara.

Setibanya di kos, aku sempat melemaskan diri sebentar di atas kasur, menarik napas dalam beberapa kali, dan menelepon ayah. Begitu telepon ku diangkat, aku mendengar suara ayahku yang sudah lemas dari seberang sana. Dengan nada yang sama lemasnya, aku tanya apa yang terjadi, dan beliau mulai bercerita.

Sore itu, ayah sudah kehabisan uang. Ayahpun sudah merasakan tidak enak bila mengambil uang di atm. Namun karena merasa butuh, akhirnya ayah berputar kembali dan ke ATM. Singkat cerita, kartu itu tersangkut. Ayahku lalu membaca pengumuman yang biasa tertera mengenai keluhan. Ada 2 nomor, yaitu nomor 021-14000 dan sebuah lagi nomor Palembang. Ayahku langsung menelpon call center yang 14000. Beberapa kali dicoba, namun tidak diangkat. Ya, call center itu tidak mengangkat telponnya (dan sepertinya inilah awal mula petaka itu) dan ayahku mencoba ke nomor yang kedua. Nomor yang ini diangkat oleh seseorang yang bersuara mirip operator. Diapun memberikan instruksi yang persis diberikan oleh operator yang asli. Setelah memberi instruksi untuk tetap tenang, operator ini meminta beberapa informasi untuk memblokir kartu atm. Mulai dari nomor rekening, nomor kartu atm, dan nomor-nomor lainnya. Terakhir dengan sedikit misterius, dia menanyakan 4 digit nomor. Ayahku yang belum menangkap maksudnya menanyakan 4 digit nomor apa yang dimaksud? Karena operator tersebut tidak langsung menjelaskan, dia terus saja menanyakan “Yang biasanya 4 digit pak”. Terakhir dia berkata maksudnya adalah pin. Dan seperti biasa, ayahku memberikan informasi tersebut, seperti informasi-informasi yang sudah-sudah. Telepon pun diakhiri dengan janji operator bahwa atm tersebut sudah diblokir

Ketika ayahku keluar dari atm, masuk 2 orang pria yang sebelumnya menanyakan ada apa. Dengan dalih mungkin mereka beruntung, mereka masuk dan mencoba kartu mereka. Tak lama mereka pun keluar dan berkata bahwa kartu mereka juga sudah tersangkut, dan merekapun pergi untuk menelpon nomor 14000

Malamnya, ayahku yang mengikuti SMS Banking Mandiri, mendapatkan 5 kali berturutan sms yang menyatakan bahwa telah terjadi penarikan sebesar 1 juta. Segera ayahku melakukan pengecekan ke nomor yang sebelumnya. Operator palsu tersebut menyatakan bahwa hal itu adalah prosedur. Karena tidak percaya, ayahku ke bank. Singkat kata, uang di bank sudah habis semuanya. 5 juta ditarik tunai, dan 5 juta sisanya dibelanjakan oleh si penjahat. Ternyata 2 orang yang masuk setelah ayahku itu, masuk untuk mengambil kartu ATM nya. Dan nomor palsu yang tadipun sudah mati untuk selamanya, karena nomor itu adalah nomor flexi.

Dan uang 10 juta rupiah itu adalah biaya kuliah serta biaya hidup aku dan adikku….

Aku melihat ada 3 pihak yang kalau boleh, mau kupersalahkan disini.

  1. Ayahku
    Di manapun di atm mandiri, pada pintunya selalu tertera peringatan nomor satu, bahwa bahkan operatorpun tidak pernah menanyakan pin anda. Aku saja sampai hapal dengan peringatan itu. Tapi entah kenapa ayahku masih termakan juga. Ayah bilang mereka benar-benar pintar berbicara. Cara berbicaranya halus dan bersahabat membuat orang jadi tak sadar. Tapi tetap saja, aku saja hapal dengan peringatan itu
  2. Call Center Bank Mandiri
    Ayahku sudah menelpon call center 14000 berkali-kali, catat, berkali-kali, tidak hanya sekali, dan tidak juga diangkat. Masa sih untuk hal sepenting call center saja sampai tidak diangkat? Untuk apa buat call center kalau toh tidak bisa memberikan pelayanan? Kenapa hanya membuat 1 call center kalau tau perannya vital. Buat 3 atau 5 kenapa sih? Memangnya mandiri tidak punya uang untuk pesan nomor khusus? Dan call center yang tidak diangkat? Aku akan menuntut Mandiri karena hal ini
  3. Flexi
    Sebenarnya sebuah rahasia di kalangan flexi yang hanya aku dan beberapa teman yang mengetahuinya. Dan karena alasan etika, aku tidak akan memberitahu kenapa flexi kupersalahkan, tapi aku tau kalau flexi bersalah dalam hal ini.
  4. Sebenarnya hanya 3 yang utama, tapi aku juga mau mempersalahkan polisi yang kalau mendapat laporan mengenai ini, SELALU hanya bilang “Iya pak, kasus seperti ini memang sudah sering terjadi dan sulit untuk dilacak, bahkan tidak mungkin”… Kentut saja kau polisi… Perbesar saja perutmu yang sudah besar itu. Bah..

Dan malam ini, keluarga kami kehilangan uang 10 juta. Uang yang tidak sedikit bagi keluargaku, uang yang sangat berharga, terutama bagiku..

Semoga Tuhan membalasmu, wahai penjahat

Cerita ini kutuliskan, agar teman-teman tidak menganggap remeh penipuan di mesin ATM ini. Sekalipun kita merasa kita mampu untuk mengatasinya, tidak demikian bila kita yang mengalami. Saya hanya ingin teman-teman tidak ada yang tertipu seperti keluarga kami.

Kalau atm tersangkut, telepon saja Call Center yang menggunakan nomor khusus, sekalipun tidak diangkat, coba terus. Dan selama kartu ATM belum keluar dari mesin, jangan izinkan orang lain masuk, apapun alasan mereka. Logisnya, kalo ATM mu nyangkut, belum keluar, hanya orang bodoh yang berusaha untuk menambahkan kartu lainnya ke dalam ATM yang sudah tersangkut. Tapi ntah apa kita masih bisa berpikir logis dalam kondisi seperti ini.

Aku hanya bisa berdoa untuk mental ayahku yang sekarang sudah tertidur lemas itu.

Categories: Uncategorized

Perenungan Awal Tahun

Oktober 24, 2008 Igor Panggabean 4 komentar

Pagi ini, sambil sedikit mengantuk, aku memaksakan diriku untuk tetap terjaga. Kulirik jam di laptop, dan tepat menunjukkan pukul 00:00. Tandanya ini sudah memasuki tanggal 25 Oktober 2008. Ya, hari ini akhirnya aku berulang tahun yang ke 22. Aku tak peduli berapa umurku, tapi aku sudah bertekad untuk memulai awal tahun ini dengan sesuatu yang baik. Dan inilah yang baik itu.

Kuambil alkitab dan buku saat teduh “Teen Eagle” yang memang sudah kupersiapkan di atas meja. Aku ingat, terakhir kali aku saat teduh adalah 17 Oktober. Sebuah rentang waktu kosong yang lama. Kubuka buku saat teduh itu, dan langsung kucari tanggal 25 Oktober. Kubaca tulisan paling atas yang bertuliskan “Cobaan”. Itu adalah tema perenungan hari ini. Berkat firman Tuhan yang kubaca juga diambil dari Kejadian 3 : 1-6. Setelah persiapan semua selesai, aku pejamkan mata, menarik napas dalam dan berusaha berkonsentrasi untuk memanjatkan doa syukurku pada Tuhan.

Secara singkat, Kejadian 3 : 1-6 menceritakan kronologis peristiwa ketika Hawa dicobai oleh ular untuk memakan buah pohon pengetahuan, dan kemudian Hawa memberikan buah itu kepada Adam, dan mereka memakannya. Hal itu adalah awal mula kejatuhan manusia kedalam dosa dan kalah oleh cobaan.

Kubaca lagi buku saat teduhku. Ayat inti perenungannya diambil dari Yakobus 1 : 12 yang isinya adalah “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.”.  

Inti perenungannya kurang lebih seperti ini. Cobaan, alias godaan, alias keinginan untuk melakukan sesuatu yang tidak baik, datangnya dari si iblis. Dia mencobai kita, supaya kita mengikuti jalan si iblis, dan menjauh dari jalan Tuhan. Namun bukan berarti kita tidak dapat menang dari jerat si iblis. Keinginan untuk berbuat salah (cobaan) bukanlah sebuah dosa, namun mengikuti keinginan itu, adalah sebuah dosa.

Untuk menang dari cobaan, kita bisa melakukan hal-hal berikut ini:

1.    Berdoa, meminta kekuatan dari Tuhan

2.    Lari, seperti Yusuf yang harus lari dari cobaan istri Potifar

3.    Berani berkata “TIDAK” bila berhadapan dengan yang salah

Dan akhirnya, Yakobus berkata, orang yang mampu mengalahkan cobaan akan mendapati mahkota kehidupan.

Kututup pembacaanku dengan sebuah renungan. Kuingat lagi, bagaimana satu tahun yang lalu, hidupku banyak menerima cobaan. Harus kuakui, satu tahun yang lalu, adalah saat yang kacau dalam hidupku. Tidak seperti tahun ini, tahun lalu aku bahkan tidak peduli untuk mengawali hari ulang tahun dengan doa singkat, apalagi sebuah perenungan. Waktu itu aku merasa malah. Itu cobaan. Dan seiring berjalan hari, makin banyak cobaan yang kualami, dan makin sering aku terjatuh kedalam cobaan itu. Seringkali aku jadi mudah marah, mudah sakit hati, mudah mendendam, tidak tentram, jadi jarang berdoa, dan banyak cobaan lainnya, dan aku kalah. Dan aku tahu, bahwa salah satu pokok doa syafaatku malam ini adalah memohon keampunan Allah Bapa atas kelemahanku, atas kedaginganku ini.

Dan kemudian aku membayangkan satu tahun kedepan. Cobaan seperti apa yang kira-kira akan kualami. Aku mengingat bahwa aku belum bisa wisuda. Jangankan prasidang, revisi seminar saja belum selesai. Dan aku mengetahui, bahwa ini adalah salah satu cobaan. Aku mengingat bagaimana orangtua ku mengharapkan aku langsung melanjut S2 keluar negri, sementara aku sendiri menginginkan untuk mencoba bekerja dulu. Dan aku berpikir, pasti akan muncul banyak cobaan dari hal ini. Belum lagi di NHKBP yang makin banyak program ke depannya. Pergumulan di paduan suara NHKBP, yang dengan bodohnya kugumulkan sendiri, bukannya kuserahkan pada Tuhan. Sudah bisa kubayangkan banyak cobaan yang akan kualami, jika Tuhan masih memberi aku hidup satu tahun lagi. Dan aku tau salah satu pokok doa syafaatku malam ini adalah kekuatan untuk mengalahkan cobaan-cobaan itu.

Setelah perenungan singkat ini, aku mempersiapkan diri untuk mengangkat seluruh doaku pada Tuhan Yesus. Banyak hal ku doakan. Keampunan atas cobaan tahun lalu, permohonan untuk menghadapi cobaan tahun depan, menyerahkan masa depanku ke tanganNya, mulai dari studi sampai teman hidupku. Dan kututup doa syafaat ku dengan Doa Bapa Kami.

Kulirik lagi jam di laptop sudah menunjukkan pukul 00.30. Sudah ada setengah jam aku melaksanakan perenunganku. Penasaran, kulirik HP. Sudah ada 2 sms yang datang. Dari Destri, adik perempuanku satu-satunya mengirim sms ke nomor AS. Dan dari Magda, kekasih dan calon teman hidupku (amin) mengirim sms ke nomor Halo. Dari dalam hatiku, aku mengucapkan terima kasih yang sangat dalam untuk mereka berdua. Hampir saja menetes air mataku, namun aku mencoba untuk tidak mudah terguncang perasaan.

Dan satu hari ini, aku akan mengumpulkan seluruh resolusi yang akan kulakukan hingga 25 Oktober 2009.

Tidak mudah untuk memulai sesuatu yang baik. Namun tidak salah untuk memulai sesuatu yang baik.

Harus kita sadari, perubahan tak datang sendiri. Kita yang memulainya. Langkahkan kakimu, jangan ragu. Tak pernah menyerah, teruslah berusaha. Sudah waktunya kita berubah. Berubahlah untuk maju, sampai suatu saat kau akan genggam hari. Kau akan mendapatkan

Categories: Curhat Life

Gado-gado

Oktober 24, 2008 Igor Panggabean 2 komentar

Ntah apa yang kurasakan setiap kali melihat yang disamping ini..

25 Oktober 2008 : hari wisuda Oktober 2008

25 Oktober 2008 : hari Ulang tahunku

Dan aku belum wisuda…….

.

Kecewa, sedih, pengharapan, semangat…

Semua campur jadi satu.. ya sudah lah..

Categories: Uncategorized

Sebuah Kenangan Konser Piano

Oktober 15, 2008 Igor Panggabean 1 comment

Sampai sekarang, masih bisa kuingat dengan jelas pengalaman kecil waktu itu. Sebuah pengalaman kecil yang sekarang membawaku menjadi seperti ini.

Waktu itu, umurku masih sekitar 6 tahun. Masih awal-awal untuk mengikuti sekolah SD kelas 1. Waktu itu, aku dibawa oleh ayahku ke sebuah sekolah musik yang terletak di dekat pusat kota. Jalanan ramai, mobil-mobil memenuhi pemandangan. Sekolah musik itu terletak tepat di persimpangan jalan, disebelah sebuah toko roti yang selalu menebarkan wangi kue-kue di setiap senja, serta sebuah toko buku yang sering kukunjungi hanya untuk melihat buku cerita bergambar.

Singkat cerita, aku didaftarkan untuk mengikuti kursus piano. Guru pianoku, seorang wanita paruh baya cantik, yang selalu kupanggil dengan sebutan “miss”. Belakangan aku baru tahu, kalau dia punya seorang adik perempuan yang sama cantiknya dan juga pengajar piano di sekolah musik yang sama. Setiap minggu sekali, selama satu jam, aku datang ke sekolah musik yang sama, bertemu dengan miss yang sama dan belajar di piano yang sama. Masih dapat kuingat bahwa lagu pertama yang mampu kumainkan dengan baik adalah “Twinkle twingkle little star”, lagu anak-anak yang masih sering kudengar setiap pagi dikala ayahku menyetel TVRI.

Suatu hari, sekolah musikku mengadakan konser bagi para murid yang belajar. Pada saat itu, aku tidak begitu tertarik dengan konser ini. Malah cenderung melelahkan menurutku, karena kami harus mempelajari lebih banyak lagu seperti biasanya, dan kami dituntut untuk tidak boleh salah dalam bermain. Sebuah kondisi yang tidak menyenangkan bagi anak kecil yang baru saja belajar piano. Namun demikian, tetap kuikuti juga. Pada akhirnya, aku diberi kesempatan untuk memainkan dua buah lagu. Sederhana memang. Benar-benar lagu yang layak untuk dimainkan oleh anak kecil saja.

Sampai tiba saatnya hari konser. Konser dimulai sore hingga malam hari. Namun kami harus datang dari pagi untuk mencoba permainan kami diatas panggung. Aku dan ayahku datang menjelang jam makan siang. Ruangan yang kami masuki sangat besar sekali. Penuh dengan bangku yang bersusun kesamping dan ke atas. Panggungnya berbentuk oval dengan tirai melengkung di kanan dan kiri yang dapat menutup seluruh panggung. Di bagian atas terdapat banyak lampu-lampu yang menerangi kursi penonton, maupun beberapa lampu yang sangat terang untuk menyinari panggung. Dua buah piano diletakkan di sisi kiri panggung dalam satu barusan menghadap kursi penonton. Di sebelah tengah panggung terdapat sebuah organ, dan di sisi kanan panggung ada tiga buah kursi dan pijakan kaki. Sepertinya untuk yang bermain gitar. Sebentar saja aku naik ke atas panggung dan mencoba bermain. Beruntunglah aku diperbolehkan untuk menggunakan partitur. Selepasnya uji coba panggung, aku dan ayahku pulang untuk bersiap-siap.

Menjelang sore, aku, ayahku dan ibuku pergi menuju tempat konser. Sampai disana, aku melihat miss ku datang menjemputku. Katanya aku harus segera ke ruang persiapan bersama dia. Ayah dan ibuku pergi ke arah yang berbeda. Sepertinya mereka menuju pintu masuk untuk membeli tiket pertunjukan. Sesampainya di belakang, aku kemudian menuju ke salah satu kursi yang sudah berisi barisan anak-anak yang kukenal sebagai sesama pelajar piano dasar. Di seberang kursi kami, tampak beberapa orang tua yang bolak-balik mengantarkan anak mereka masuk. Bahkan ada seorang teman yang menangis sejadinya ketika akan ditinggal oleh ibunya. Miss ku tampak sangat sabar menghadapi anak yang ini. Namun didalam pikiran seorang anak kecil sepertiku, konser ini tak lebih seperti hari kursus biasa, namun disaksikan oleh tambahan beberapa orang tua. Aku masih anak kecil waktu itu.

Tiba saat giliranku. Missku datang dan menggandeng tangganku. Dia membawaku masuk ke panggung, berjalan ke tengah panggung dan berdiri sebentar sebelum memberi hormat. Kulihat kedepanku dan aku terkejut melihat betapa banyaknya orang-orang yang memandang kami. Sambil sedikit gemetar, aku mencari dimana orang tua ku. Sebentar saja sudah kutemukan. Ternyata mereka duduk pada barisan ketiga dari depan. Saat aku memandang mereka, merekapun tengah memandang dan melambaikan tangan kepadaku. Akupun melambai kepada mereka. Sesaat hatiku menjadi lebih tenang, walau sesaat kemudian aku merasakan gentar sekali lagi melihat semua mata yang memandangku waktu itu.

Miss ku mengajakku duduk di piano di depan, melewati piano yang ada di belakang. Kupikir, piano yang belakang itu pastilah suaranya buruk. Aku duduk di piano dan miss ku pergi kebelakang meninggalkanku. Aku tak berani melihat kemana dia pergi. Aku terlalu gugup, mengetahui ada banyak orang didepanku sedang memperhatikanku. Kemudian aku membuka partiturku, kuletakkan di piano seperti biasanya, membaca sekilas pada bagian judulnya. Judul lagu itu adalah “Twingkle-twingkle little star”. Kemudian kubaca nada dasarnya, ketukannya dan kemudian kuulurkan tanganku menyentuh tuts piano di depanku. Akupun mulai bermain.

Pada awalnya aku bermain seperti biasa kulakukan. Permainan yang sepi, dengan satu jari saja menekan tuts piano. Aku berpikir tak ada yang menarik dalam permainan lagu ini. Ingin rasanya kuselesaikan di tengah jalan saja. Bosan. Ya, bosan memainkan lagu itu itu saja. Namun tak lama, aku mendengar suara yang berbeda. Kudengar permainanku menjadi semakin ramai. Lagunya menjadi semakin indah. Denting yang terdengar lebih banyak dari tuts yang kutekan. Aku tak tahu apa yang terjadi, namun aku merasakan sebuah kesenangan untuk meneruskan permainan piano ini. Selama latihan belum pernah kudengar permainanku menjadi seindah ini. Indah sekali, bahkan sangat indah. Dan aku meneruskan permainanku sampai akhirnya.

Ketika selesai, aku berdiri di belakang pianokudan mendengar bahwa banyak orang bertepuk tangan dengan antusias kepadaku. Bahkan beberapa orang bertepuk tangan sambil berdiri dan mengangguk-anggukkan kepala. Mereka semua bertepuk tangan, lama sekali. Kulihat mereka semua tersenyum padaku. Dan aku pun tersenyum lebar sekali. Ternyata permainanku sangat bagus bagi mereka. Sebuah tepuk tangan yang telah membuatku senang sekali, mengingat aku baru belajar beberapa lama. Dan aku tersenyum bangga. Saat itu aku beranikan kepalaku untuk melihat kebelakang. Dan aku melihat miss ku pun sedang berdiri sambil tersenyum. Dia berdiri di balik piano yang ada di belakangku. Di piano itu juga aku melihat ada partitur yang terbentang.

Terkadang, kita bersikap seperti anak kecil. Kita bangga dengan apa yang telah kita buat. Kita merasa kebanggaan yang luar biasa akan apa yang orang lain puji. Tapi kita lupa, bahwa itu terjadi karena ada Tuhan di dekat kita. Sebagai anak kecil, sebenarnya kita tidak tahu apa-apa. Kita tidak bisa apa-apa, dan semua yang kita lakukan dapat menjadi sia-sia. Tapi karena ada bantuan Tuhan di dekat kita, apa yang kita lakukan dapat menjadi luar biasa. Sekalipun hal itu hanya sederhana dan kecil. Tuhan yang mengajari kita dari awal, hingga kita dapat melakukan sedikit. Namun dia tetap membantu kita, sehingga yang sedikit itu dapat menjadi luar biasa. Semoga kita selalu ingat, bahwa dengan Tuhan, sesuatu yang kecil sekalipun dapat menjadi luar biasa.

Categories: Christian Life

Munafik

Oktober 5, 2008 Igor Panggabean 3 komentar

Wah, judulnya berat nih. Iya, ntah kenapa tiba2 saja terlintas dalam pikiranku mengenai kata ini.

Akhir-akhir ini aku banyak menemui orang-orang yang munafik. Atau setidaknya orang-orang yang menurutku munafik (kalau aku boleh menilai). Tapi mungkin itu hanya penilaian pendek-dengan-seenaknya-tanpa-pikir-panjang. Semoga saja aku yang salah, tapi sampai saat ini, aku merasa bahwa aku benar.

Banyak orang yang dekat denganku, tampak begitu hebat dari luar. Kata-katanya seperti orang bijaksana. Tampak seperti orang yang penuh perhatian, begitu hangat dan pengertian. Penuh dengan nasihat-nasihat membangun.

Tapi

Kehidupan sehari-harinya begitu berbeda dari apa yang mereka tampilkan padaku. Nasihat-nasihat yang dikatakan tidak mereka jalani sendiri. Mereka begitu pengertian, namun menusuk dari belakang. Mereka tampak bijaksana, tapi sering tak ubahnya seperti anak kecil. Apa yang tampak luar, ternyata hanya topeng belaka. Menasihati mengenai motivasi yang benar, tapi sendirinya tidak memiliki motivasi seperti itu.

Bagiku, tidak ada yang berhak mengatakan padaku “jangan begini, jangan begitu” kalau dia sendiri masih melakukan hal yang dia sendiri larang. Sok suci, tapi sampah. Hanya menimbulkan kepahitan dalam diri. Bukannya menjadi berkat, malah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Sedihnya lagi, mereka berpayung dalam sebuah organisasi pelayanan. Sebuah organisasi yang seharusnya suci, tapi diisi oleh sampah-sampah munafik macam mereka.

Entah mereka yang busuk, atau aku yang terlalu berharap yang ideal? Mereka yang salah, atau aku yang salah? Haruskah aku pergi, atau harusnya menyesuaikan diri saja?

Teman-teman, aku harus apa?

Kolose  3:23 “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”