Mayoritas dan Minoritas
Hmm, mungkin ini adalah sebuah postingan yang akan menjadi serius, namun saya hanya mengharapkan sebuah feedback yang membangun, bukan sekedar cacian dan makian. Ingat, tulisan ini tidak untuk menambah hit blog sama sekali. Saya sih tidak peduli. Oke, kita mulai.
Tidak dipungkiri, sejak dahulu sudah ada yang namanya mayoritas dan minoritas. Kedua kelompok ini adalah bagian dari masyarakat yang akan dan selalu ada. Tidak dipungkiri lagi terdapat perbedaan di antara keduanya. Sebuah perbedaan yang sebenarnya cukup besar, namun selalu saja tidak disadari oleh kedua belah pihak. Salah satu perbedaannya adalah perbedaan tingkah laku kepada golongan non sejenis.
Percaya atau tidak, di jaman sekarang ini, masyarakat sudah berusaha untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang bersinggungan dengan keadaan mayoritas atau minoritas. Terutama di Indonesia ini. Namun sayangnya, hal ini belum benar-benar terjadi. Yang ada hanyalah masyarakat negara ini takut untuk bersinggungan dengan hal ini, dan akhirnya menutup diri dari kenyataan bahwa mayoritas dan minoritas itu ada. Fatalnya, sikap seperti ini tidak mengubah pola tingkah laku kepada golongan non sejenis.
Contohnya, di negara ini, orang kaya adalah mayoritas dan orang miskin adalah minoritas. Setuju kan? Apa lagi yah? Suku Batak adalah minoritas, namun suku Jawa adalah Mayoritas. Setuju? Keturunan Indonesia adalah mayoritas, sedangkan keturunan Tiong Hoa adalah minoritas. Termasuk agama Islam adalah mayoritas dan agama Kristen adalah minoritas. Dari semua yang disebut diatas, segalanya adalah hal-hal yang memang berbau SARA. di Indonesia ini, menyinggung SARA itu katanya dapat mengganggu ketenteraman hidup bermasyarakat.
Mari kita tilik lebih lanjut, tentang bagaimana Mayoritas bertindak terhadap minoritas dan bagaimana minoritas membalas perlakuan Mayoritas. Lihat bagaimana orang kaya bertindak terhadap orang miskin. Coba, pergi ke luar, ke perempatan jalan. Perhatikan berapa banyak pengamen, anak jalanan, peminta-minta yang ada. Perhatikan pula berapa banyak pengendara bermotor berseliweran. Lihat kan perbedaannya disana?
Contoh lagi, bagaimana perilaku masyarakat Indonesia terhadap keturunan Tiong Hoa. Datanglah ke Universitas negeri manapun di Indonesia. Hitunglah, berapa banyak keturunan Indonesia, dibandingkan dengan keturunan Tiong Hoa di kampus itu. Datanglah ke Universitas Swasta. Coba hitung lah? Dan tariklah kesimpulan sendiri kenapa bisa sampai seperti itu.
Yang paling menarik adalah Agama. Dan kemudian sebagian pembaca akan berkata “Hei, itu tabu”, “Hei, sudahlah, untuk apa agama dibahas”, “Wah, agama sih memang ga pernah habis”, “Malas ah, rumit, ribet, dll” dan akhirnya pembicaraan tentang ini tenggelam bersama dengan datangnya waktu. Tapi, ayo lah, hal ini nyata dan terjadi. Agama ada di setiap manusia. Perbedaan perlakuan antar umat beragama pun terjadi. Tapi terserah saja, yang mau membaca, silahkan teruskan ke paragraf di bawah, yang tidak mau baca, ya skip saja paragraf di bawah. Tapi mungkin anda akan melewatkan 1 kenyataan lagi yang terjadi dalam hidup anda.
Coba sebut, agama apa yang menjadi Mayoritas di Indonesia ini (Islaaammm)? Coba sebut, agama apa yang menjadi minoritas di negara ini (Kristeeen, Katoliiiik, Budhaaaaa, Hinduuuu). Bahkan yang terakhir, agama Hindu, mungkin segelintir masyarakat bahkan tidak tau bahwa di Dunia ini ada agama Hindu. Perlu saya buktikan? Tidak usah, lanjut saja. Masyarakat Indonesia ini tau, bahwa hal ini adalah hal paling sensitif yang dapat terjadi. Perdebatan mengenai agama saja dapat berujung pada peperangan, perubahan peraturan, pendiskriminasian, sinisme berkepanjangan, sampai tuduhan pelanggaran hukum. Dan pada akhirnya, siapa yang dimenangkan coba?? (Mayoritaaaasss) Dan apa yang terjadi pada kaum minoritas? (Diem aja luh. belagu lagi, gua bantaaaiii) Ok, memang terlalu berlebihan. Tapi coba kita lihat deh. Apa yang terjadi ketika film FITNA muncul di dunia? Apa yang terjadi ketika ada yang berusaha menyerang sebuah agama Mayoritas. Jawab sendiri lah yah. Lalu, coba, pergi ke gramedia, lihat buku bagian “Agama”, “New Released”, atau “Popular Books” dan lihat buku2 sejenis yang berjudul “Yang tak mungkin dijawab orang Kristen”, “Kesesatan Kristen”, “Jasad Yesus ditemukan”, “Injil Yudas”, “Injil Maria Magdalena”, dll yang tidak ada dalam alkitab. Ga usah jauh2 deh. “Da Vinci Code”. Siapa yang tidak tau, belum pernah membaca, atau menonton filmnya? (sayaaaa). Dan kemudian, coba perhatikan, apa yang dilakukan oleh sebuah agama minoritas ketika ajaran agamanya di serang? Dan silahkan lakukan perbandingan. Mengapa film FITNA dengan cepat dihapus dan bahkan dibuat peraturan pelarangannya, sedangkan film “Da Vinci Code” dan film lain2nya yang ada menyentil tentang “Ajaran Kristen itu tidak benar” dapat dengan tenang beredar di bioskop2 seluruh Indonesia? Tidak usah jauh2. Film “Ayat-ayat Cinta”. Jujur saya tidak pernah nonton atau baca novelnya, tapi dari cerita adik saya yang sudah nonton, saya tau lah ceritanya kira2 gimana. Tapi sebelumnya maaf kalo saya salah yah. Di cerita itu, ada seorang Kristen yang pada akhirnya “Mualaf” (Itu ya sebutannya di Islam? Saya tidak tau, maaf kalo salah) dan berpindah dari agamanya demi Cinta. Berikutnya saya tidak tau dan tidak mau tau. Maaf, don’t bother me with that. Bahkan presiden menghimbau masyarakat Indonesia untuk “wajib” menonton film ini. Tapi, coba kalau ada film yang bercerita tentang seorang beragama “Islam” yang berpindah ke agama kristen demi Cinta. Mungkin kah film seperti ini akan pernah muncul di bioskop Indonesia? Mungkin kah presiden akan menghimbau untuk menonton film seperti ini? Sekarang kita lihat tayangan TV. Berapa banyak sih sinetron dll yang sejenis yang bernuansa dan menyebarkan ajaran Islam muncul di layar kaca? Seberapa sering iklannya muncul? Seberapa banyak sponsornya? Seberapa kaya itu para artis2nya? Ada berapa season kah sinetron itu? Pada jam2 berapa film itu ditayangkan? Bandingkan dengan sinetron yang bernuansa Kristiani. Mungkin sebagian akan bertanya, emang pernah ada yah? Ya wajar sih kalo keberadaannya saja tidak diketahui. Iklan saja sangat jarang, dan iklannya ada pada jam2 non strategis tertentu. Sinetronnya saja diputar pada jam2 tengah malam. Tidak pernah tuh sampe season 2. Sponsor? Tunggal. Di Channel apa diputar? Cuma RCTI (CMIIW). Artis2nya siapa aja? Yang pasti jarang yang dikenal dan bisa sampe seterkenal Farel dan Fitri lah. Coba kita putar balik. Kalo film nuansa Islam dan nuansa Kristen diperlakukan terbalik? Jangan2 saluran TV swasta dilarang beroperasi di Indonesia. Balik lah kita ke jaman TVRI dulu. Disini memang banyak dibahas antara Islam dan Kristen yang mencakup Protestan dan Katolik. Lalu dimana agama lain nya? Budha? Hindhu? Wah maaf, kalian sudah terlalu minoritas di negara ini. No Offense, tapi agama kalian jarang di perdebatkan sih. kita sesama agama minoritas sih lebih baik menjaga kelanggengan dan saling menghormati.
Lihat kan? Mayoritas itu selalu lebih kuat dan berusaha meminimaliskan para minoritas. Mayoritas = super power. Minoritas = kelaut aje. Tapi katanya Indonesia ini adalah negara bebas? Bebas berekspresi? Bebas berpendapat? Negara Pancasila? Pembukaan UUD aja masih disebut2 di upacara SD. Eh, SD sekarang masih suka ada upacara ga sih? Katanya indonesia ini Bebas kan. Tapi kok sepertinya kebebasannya hanya ada kepada golongan Mayoritas ya? Mana kebebasan untuk minoritas? Kalo orang miskin berdemo, langsung aja diusir, dipentung, ditangkapin. Tapi kalo orang kaya apalagi pejabat2 yang langsung main belakang dan serah terima uang, mulus lah.
Prihatin memang. Indonesia sudah mulai kehilangan persatuannya. Indonesia sudah mulai dikuasai oleh kaum mayoritas, dan kaum minoritas hanya bisa bersabar dan mau menerima keadaan apa adanya. Tanpa disadari, kedewasaan sebenarnya lebih terlihat pada kaum minoritas. Inilah kenyataan negara kita. Negara yang penuh dengan “katanya..” “katanya..” sementara yang ada adalah “Faktanya..” “Faktanya..” yang selalu berusaha di tutup2in dan terus mengedepankan yang “katanya..” “katanya..” itu.
Terima kasih sudah mau membaca dan berkomentar. Sekali lagi, tulisan ini tidak untuk menyerang salah satu pihak, bukan pula sebuah bentuk jeritan hati kaum minoritas, tapi sekali lagi, tulisan ini hanya mengemukakan fakta, dan bentuk penagihan kepada kebebasan yang katanya ada di Indonesia ini. Inilah bentuk kebebasan berpikir saya.









Komentar Terakhir