Beranda > Batak Culture > Budaya Batak – Introduction

Budaya Batak – Introduction

Horas !!!

Pasti dah pernah denger orang bilang kata di atas kan? Ya, itu memang kata sapaan dari masyarakat suku batak. Suku batak memang termasuk suku yang paling ternama dan terkenal di Indonesia. Lihat saja, masyarakat suku batak memiliki pengaruh yang cukup tinggi di Indonesia. Dimulai dari penyebarannya yang merata sampai ke seluruh Indonesia, sampai posisi penting yang pasti ada dihuni oleh masyarakat dari suku batak. (Sayangnya presiden Indonesia belum ada yang dari suku batak yah..)

Suku Batak mula-mula adalah suku pribumi yang belum mengenal peradatan (pada awalnya). Agama asli yang dianut adalah kepercayaan animisme yang disebut dengan Parmalim oleh suku batak. Agama ini bisa dikatakan merupakan sebuah kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang tumbuh dan berkembang di Tanah Air Indonesia sejak Dahulu Kala. “Tuhan Debata Mulajadi Nabolon” adalah pencipta Manusia, Langit, Bumi dan segala isi alam semesta yang disembah oleh “Umat Ugamo Malim” (“Parmalim”). Jadi sejak awal, suku Batak memang sudah mengenal Tuhan, yang mereka percayai sebagai sang pencipta, namun belum mengenal siapa itu penciptanya.

Wilayah penyebaran suku batak mula-mula tidak terlalu luas. Hanya di sekitar daerah Sumatera Utara, Kota Subulussalam, Aceh Singkil dan Aceh Tenggara. Namun seiring dengan perkembangan waktu, mulai terjadi penyebaran hingga saat ini suku batak mendiami seluruh daerah di Indonesia

Suku batak adalah suku yang lekat dengan adatnya. Adat itu sendiri telah mengalami pergeseran makna hingga saat ini, sesuai dengan kedatangan agama kepada masyarakat suku Batak. Karena pada awalnya, adat tersebut dilaksanakan untuk menyembah atau berdoa kepada raja-raja batak yang telah mati, orang yang sudah mati, dan lainnya yang tidak sesuai dengan agama. Namun saat ini adat tersebut telah diubah sedemikian rupa sehingga digunakan untuk upacara agama juga, dan untuk kesenangan saja.

Mengenai Adat Istiadat dan Budaya Batak, akan dibahas di postingan yang lain…


[to be continued]

GwBatak

About these ads
Kategori:Batak Culture
  1. btyop
    Juni 26, 2007 pukul 1:32 am | #1

    hoho, bagus2, gw bisa nambah wawasan nusantara ^_^
    jadi pengen baca lanjutannya ntar

    (Igor says : Silahkan ditunggu lanjutannya. Sudah ngebuat draftnya kok. Tinggal tunggu launching. hehehe)

  2. Juni 26, 2007 pukul 3:59 am | #2

    setuju ma #1 …
    btw, gw menunggu poin-poin ttu loh.. ;)
    what is it? mau tau ajah :P

    (Igor says : Nunggu apa sih Gri? Bilang dong, siapa tau ntar bisa kutambahin )

  3. cimel
    Desember 5, 2007 pukul 6:32 am | #3

    tau cerita tentang pulau Tao ga, di deketnya samosir. saya ada tugas dan susah banget nyarinya…..

  4. ira simbolon
    Desember 19, 2007 pukul 4:01 pm | #4

    wah gw sebagai orang batak jadi merasa kagum sm suku sendiri (hahaha…jadi sukuisme neh),btw thanks ya udah buat artikelnya

  5. Agus Syafie
    Maret 25, 2008 pukul 4:13 pm | #5

    BANGSO BATAK TOBA, KETURUNAN ISRAEL YANG HILANG

    Batak – Israeli)

    Bangsa Israel kuno terdiri dari 12 suku. Setelah raja Salomo wafat,
    negara Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan terdiri dari
    dua suku yaitu Yehuda dan Benjamin yang kemudian dikenal dengan nama
    Yehuda, atau dikenal dengan nama Yahudi. Kerajaan Selatan ini
    disebut Yehudah, ibukotanya Yerusalem, dan daerahnya dinamai Yudea.

    Bagian utara terdiri dari 10 suku, disebut sebagai Kerajaan Israel.
    Dalam perjalanan sejarah, 10 suku tersebut kehilangan identitas
    kesukuan mereka. Kerajaan utara Israel tidak lama bertahan sebagai
    sebuah negara dan hilang dari sejarah. Konon ketika penaklukan
    bangsa Assyria, banyak orang Kerajaan Utara Israel yang ditawan dan
    dibawa ke sebelah selatan laut Hitam sebagai budak. Sebagian lagi
    lari meninggalkan asalnya untuk menghindari perbudakan.

    Sementara itu Kerajaan Yehudah tetap exist hingga kedatangan bangsa
    Romawi. Setelah pemusnahan Yerusalem pada tahun 70 oleh bala tentara
    Romawi yang dipimpin oleh jenderal Titus, orang-orang Yehudah pun
    banyak yang meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain,
    terserak diseluruh dunia.

    Jauh sebelum itu, ketika masa pembuangan ke Babilon berakhir dan
    orang-orang Yehudah atau disebut Yahudi diijinkan kembali ke
    negerinya, dan sepuluh suku Israel dari Kerajaan utara memilih tidak
    pulang tetapi meneruskan petualangan kearah Timur. Demikian juga
    dengan mereka yang diperbudak di selatan laut Hitam, setelah masa
    perbudakan selesai, tidak diketahui kemana mereka pergi melanjutkan
    hidup.

    Dengan demikian banyak diantara bangsa Israel kuno kemudian
    kehilangan identitas mereka sebagai orang Israel. Ada sekelompok
    penduduk di daerah Tiongkok barat, diterima sebagai puak Cina,
    tetapi secara umum profil wajah mereka agak berbeda dengan penduduk
    Cina pada umumnya. Perawakan mereka lebih besar, hidung agak
    mancung, namun berkulit kuning dan bermata sipit. Mereka menyembah
    Allah yang bernama Yahwe. Sangat mungkin mereka adalah keturunan
    sepuluh suku Israel yang hilang yang telah kawin campur dengan
    penduduk lokal sehingga kulit dan mata menjadi seperti penduduk asli.

    Saya percaya banyak diantara para pembaca yang mengetahui bahwa di
    negeri Israel ada sekelompok kecil orang Israel yang berkulit hitam.
    Mereka adalah suku Falasha, yang sebelum berimigrasi ke Israel hidup
    di Etiopia selama ratusan generasi. Fisik mereka persis seperti
    Negro dengan segala spesifikasinya yaitu kulit hitam legam, bibir
    tebal, rambut keriting, dll.

    Mereka mengklaim diri mereka sebagai keturunan Israel atau disebut
    Beta Israel, dan dengan bukti-bukti yang dimiliki, mereka mampu
    memenuhi seluruh kriteria yang dituntut oleh Pemerintah Israel yang
    merupakan syarat mutlak supaya diakui sebagai Israel perantauan.
    Setelah memperoleh pengakuan sebagai keturunan Israel, sebagian dari
    mereka kembali ke Tanah Perjanjian sekitar 15 tahun lalu dengan
    transportasi yang disediakan oleh Pemerintah Israel. Itulah sebabnya
    mengapa ada Israel hitam.

    Mereka seperti orang Negro karena intermarriage dengan perempuan-
    perempuan lokal sejak kakek moyang mereka pergi ke Ethiopia. Kita
    tahu bahwa bahwa Ethiopia adalah salah satu negara yang penduduknya
    mayoritas Kristen yang paling tua didunia. Ingat sida-sida yang
    dibaptis oleh Filipus dalam Kisah 8:26-40. Bahkan sebelum era
    Kekristenan pun sudah ada penganut Yudaisme disana.Walaupun banyak
    yang kembali, sebahagian lagi tetap memilih menetap di negeri itu,
    dan merekalah yang menjaga dan memelihara Tabut Perjanjian yang
    konon ada disana.

    Apakah ada diantara para pembaca yang pernah mendengar selentingan
    bahwa etnik Bangso Batak Toba, adalah juga keturunan bangsa Israel
    kuno yang hilang? Mungkin saja tidak, karena orang-orang Batak Toba
    sendiri banyak yang tidak mengetahuinya, kecuali segelintir yang
    memberikan perhatian terhadap hal ini.

    Menurut kamus umum bahasa Indonesia Batak mempunyai arti (sastra),
    adalah petualang, pengembara, sedang membatak berarti berpetualang,
    pergi mengembara. Walaupun demikian orang Batak dikenali dengan
    sikap dan tindakannya yang khas, yaitu terbuka, keras dan apa-adanya.

    Hosea 19:17: Allahku akan membuang mereka (ISRAEL YANG MURTAD),
    sebab mereka tidak mendengar Dia, maka mereka akan MENGEMBARA
    diantara bangsa-bangsa.

    Mengapa di Sumatera, karena Sumatera adalah salah satu pulau di
    Hindia yang berdekatan dengan India. Sumatera juga merupakan salah
    satu pulau di Lautan Samudera Hindia.

    Bandingkan Yesaya 11:11: Pada waktu Tuhan akan mengangkut pula
    tangaNya untuk menebus sisa-sisa umatNya (Bangsa ISRAEL YANG MURTAD)
    yang tertinggal di Asyur, dan di Mesir, di Patros, di Ethiopia, dan
    di Elam, di Sinear, di Hamat dan
    di Pulau-pulau di Laut.

    Seperti yang diungkapkan oleh seorang anthropolog dan juga pendeta
    dari Belanda, profesor Van Berben, dan diperkuat oleh prof Ihromi,
    guru besar di UI (Universitas In 782 donesia), bahwa tradisi etnik
    Tapanuli (Batak Toba) sangat mirip dengan tradisi bangsa Israel kuno.

    Pendapat itu didasarkan atas alasan yang kuat setelah membandingkan
    tradisi orang Tapanuli dengan catatan-catatan tradisi Israel dalam
    Alkitab yang terdapat pada sebahagian besar kitab Perjanjian Lama,
    dan juga dengan catatan-catatan sejarah budaya lainnya diluar
    Alkitab.

    Beberapa peneliti dari etnis Tapanuli juga yakin bahwa Batak adalah
    keturunan Israel yang sudah lama terpisah dari induk bangsanya, tapi
    karena intermarriage dengan penduduk lokal ditempat mana mereka
    bermukim membuat orang Batak secara fisik menjadi seperti orang
    Melayu.

    Seorang Batak Toba, yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Israel
    dan menjadi warga negara, berusaha mengumpulkan data-data untuk
    pembuktian. Setelah merasa sudah cukup, dia mengajukannya ke
    pemerintah Israel yang waktu itu masih dipimpin oleh PM Yitzak Rabin.

    Tetapi tenyata data tersebut belum bisa memenuhi seluruh kriteria.
    Pemerintah Israel kemudian meminta agar kekurangannya dicari hingga
    dapat mencapai 100 persen supaya pengakuan atas etnis Batak sebagai
    orang Israel diperantauan dapat diberi. Konon kekurangan itu
    terutama terletak pada silsilah yang banyak missing links-nya, dan
    menelusuri silsilah itu agar sempurna sama sulitnya dengan menyelam
    ke perut bumi.

    Peneliti berharap suatu waktu pada masa depan, Pemerintah Israel
    bisa saja mengubah kriterianya dengan menjadi lebih lunak dan etnik
    Batak diterima sebagai bahagian yang terpisah dari mereka.

    Setelah mendengar selentingan itu, saya benar-benar menaruh minat
    untuk menyelidiki sejauh mana budaya Bangso Batak Toba dapat memberi
    bukti similaritasnya dengan tradisi Israel kuno. Alkitab adalah buku
    yang prominent dan sangat layak serta absah sebagai kitab pedoman
    untuk mencari data budaya Israel kuno yang menyatu dengan unsur
    sejarah dan spiritual.

    Beberapa diantara kesamaan tradisi Batak Toba dengan tradisi Israel
    kuno adalah sebagai berikut:

    1). Pemeliharaan silsilah (Tarombo dan Marga)

    Semua orang Tapanuli, terutama laki-laki, dituntut harus mengetahui
    garis silsilahnya. Demikian pentingnya silsilah, sehingga siapa yang
    tidak mengetahui garis keturunan kakek moyangnya hingga pada dirinya
    dianggap na lilu – tidak tahu asal-usul – yang merupakan cacat
    kepribadian yang besar.

    Bangsa Israel kuno juga memandang silsilah sebagai sesuatu yang
    sangat penting. Alkitab, sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian
    Baru sangat banyak memuat silsilah, terutama silsilah dari mereka
    yang menjadi figur penting, termasuk silsilah Yesus Kristus yang
    ditelusuri dari pihak bapak(angkat) Nya Yusuf, yang keturunan Daud
    dan pihak ibuNya (Maria).

    Catatan:

    MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah
    (patrilineal) .Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis
    keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki. Seorang ayah
    merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki-laki yang
    meneruskan marganya. Sesama satu marga dilarang saling mengawini,
    dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu.
    Menurut buku “Leluhur Marga Marga Batak”, jumlah seluruh Marga Batak
    sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.

    Catatan: Marga dalam kamus Inggris Hassan Shadily dan John Echols
    adalah CLAN, yakni Suku, Marga, dan KAUM. Dalam arti yang lain,
    Marga bias berarti Warga, dari bahasa India (Sansekerta,
    kemungkinannya) . Jadi, kalau ada orang Batak bermarga Tampubolon,
    berarti dia berasal dari KAUM TAMPUBOLON. Bandingkan dengan KAUM
    LEWI, KAUM YEHUDAH, KAUM SIMEON dan lain-lain.

    TAROMBO adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah.
    Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga. Bila
    orang Batak berkenalan pertama kali, biasanya mereka saling tanya
    Marga dan Tarombo. Hal tersebut dilakukan untuk saling mengetahui
    apakah mereka saling “mardongan sabutuha” (semarga) dengan
    panggilan “ampara” atau “marhula-hula” dengan
    panggilan “lae/tulang” . Dengan tarombo, seseorang mengetahui apakah
    ia harus memanggil “Namboru” (adik perempuan
    ayah/bibi), “Amangboru/Makela” ,(suami dari adik ayah/Om), “Bapatua/
    Amanganggi/ Amanguda” (abang/adik ayah), “Ito/boto” (kakak/adik) ,
    PARIBAN atau BORU TULANG (putri dari saudara laki laki ibu) yang
    dapat kita jadikan istri, dst.

    2). Perkawinan yang ber-pariban

    Ada perkawinan antar sepupu yang diijinkan oleh masyarakat Batak,
    tapi tidak sembarang hubungan sepupu. Hubungan sepupu yang diijinkan
    untuk suami-istri hanya satu bentuk, disebut marpariban. Cukup
    report menerangkan hal ini dalam bahasa Indonesia karena bahasa ini
    tidak cukup kaya mengakomodasi sebutan hubungan perkerabatan dalam
    bahasa Batak. Yang menjadi pariban bagi laki-laki ialah boru ni
    tulang atau anak perempuan dari saudara laki-laki ibu. Sedangkan
    yang menjadi pariban bagi seorang gadis ialah anak ni namboru atau
    anak laki-laki dari saudara perempuan bapa.

    Hanya hubungan sepupu yang seperti itu yang boleh menjadi suami-
    isteri. Karena suku Batak penganut patriarch yang murni, ini adalah
    perkawinan ulang dari kedua belah pihak yang sebelumnya sudah
    terjalin dengan perkawinan.

    Mari kita bandingkan dengan Alkitab. Pada kitab Kejadian, Yakub
    menikah dengan paribannya, anak perempuan Laban yaitu Lea dan Rahel.
    Laban adalah tulang dari Yakub. (Saudara laki-laki dari Ribka, ibu
    dari Yakub). Didunia ini sepanjang yang diketahui hanya orang Israel
    kuno dan orang Batak yang sekarang memegang tradisi hubungan
    perkawinan seperti itu.

    3). Pola alam semesta

    Orang Batak membagi tiga besar pola alam semesta, yaitu banua
    ginjang (alam sorgawi), banua tonga (alam dimensi kita), dan banua
    toru (alam maut). Bangsa Israel kuno juga membagi alam dengan pola
    yang sama.

    4). Kredibilitas

    Sebelum terkontaminasi dengan racun-racun pikiran jaman modern,
    setiap orang Batak, terutama orang tua, cukup menitipkan sebuah
    tempat sirih (salapa atau gajut), ataupun sehelai ulos, sebatang
    tongkat, atau apa yang ada pada dirinya sebagai surat jaminan hutang
    pada pihak yang mempiutangkan, ataupun jaminan janji pada orang yang
    diberi janji. Walaupun nilai ekonomis barang jaminan bisa saja
    sangat rendah tetapi barang tsb adalah manifestasi dari martabat
    penitip, dan harus menebusnya suatu hari dengan merelealisasikan
    pembayaran hutang ataupun janjinya. Budaya Israel kuno juga
    demikian. Lihat saja Yehuda yang menitipkan tongkat kepada Tamar
    sebagai jaminan janji (Kej. 38).

    5). Hierarki dalam pertalian semarga

    Dalam budaya Batak, jika seorang perempuan menjadi janda, maka laki-
    laki yang paling pantas untuk menikahinya ialah dari garis keturunan
    terdekat dari mendiang suaminya. Ini dimaksudkan agar keturunan
    perempuan tsb dari suami yang pertama tetap linear dengan garis
    keturunan dari suami yang kedua. Misalnya, seorang janda dari
    Simanjuntak sepatutnya menikah lagi adik laki -laki mendiang
    (bandingkan dengan Rut 1:11).

    Jika tidak ada adik laki-laki kandung, sebaiknya menikah dengan
    saudara sepupu pertama dari mendiang yang dalam garis silsilah
    tergolong adik. Jika tidak ada sepupu pertama, dicari lagi sepupu
    kedua. Demikian seterusnya urut-urutannya. Hal semacam ini
    diringkaskan dalam ungkapan orang Batak : “Mardakka do salohot,
    marnata do na sumolhot. Marbona do sakkalan, marnampuna do ugasan”.

    Dalam tradisi Israel kuno, kita dapat membaca kisah janda Rut dan
    Boas. Boas masih satu marga dengan mendiang suami Rut, Kilyon. Boas
    ingin menikahi Rut, tapi ditinjau dari kedekatannya menurut garis
    silsilah, Boas bukan pihak yang paling berhak. Oleh sebab itu dia
    mengumpulkan semua kerabat yang paling dekat dari mendiang suami
    Rut, dan mengutarakan maksudnya. Dia akan mengurungkan niatnya jika
    ada salah satu diantara mereka yang mau menggunakan hak adat-nya,
    mulai dari pihak yang paling dekat hubungan keluarganya hingga yang
    paling jauh sebelum tiba pada urutan Boas sendiri. Ya, mardakka do
    salohot, marnata do na sumolhot. (Baca kitab Rut).

    6). Vulgarisme

    Setiap orang dapat marah. Tetapi caci maki dalam kemarahan berbeda-
    beda pada tiap-tiap etnik. Orang Amerika terkenal dengan serapah:
    son of a bitch, bastard, idiot, dll yang tidak patut disebut disini.
    Suku-suku di Indonesia ini umumnya mengeluarkan makian dengan
    serapah : anjing, babi, sapi, kurang ajar, dll.

    Pada suku Batak makian seperti itu juga ada, tetapi ada satu yang
    spesifik. Dalam sumpah serapahnya seorang Batak tak jarang memungut
    sehelai daun, atau ranting kecil, atau apa saja yang dapat diremuk
    dengan mudah. Maka sambil merobek daun atau mematahkan ranting yang
    dipungut/dicabik dari pohon dia mengeluarka 6ea n sumpah
    serapahnya:, , Sai diripashon Debata ma au songon on molo so hudege,
    hubasbas, huripashon ho annon !!!”. Terjemahannya kira-kira
    begini:,,Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku kalau kamu tidak
    kuinjak, kulibas, kuhabisi !!!”.

    Robeknya daun atau patahnya ranting dimaksudkan sebagai simbol
    kehancuran seterunya. Orang-orang Israel kuno juga sangat terbiasa
    dengan sumpah serapah yang melibatkan Tuhan didalamnya. Vulgarisme
    seperti ini terdapat banyak dalam kitab Perjanjian Lama, diantaranya
    serapah Daud pada Nabal. (1 Sam. 25, perhatikan ayat 22 yang persis
    sama dengan sumpah serapah orang Batak).

    7). Nuh dan bukit Ararat

    Ada beberapa etnik didunia ini yang mempunyai kisah banjir besar
    yang mirip dengan air bah dijaman Nuh. Tiap etnik berbeda alur
    ceritanya tetapi polanya serupa. Etnik Tapanuli juga punya kisah
    tentang air bah, tentu saja formatnya berbeda dengan kisah Alkitab.
    Apabila orang-orang yang sudah uzur ditanya tentang asal-usul suku
    Batak, mereka akan menceritakan mitos turun temurun yang mengisahkan
    kakek moyang orang Batak diyakini mapultak sian bulu di puncak bukit
    Pusuk Buhit.

    Pusuk Buhit adalah sebuah gunung tunggal yang tertinggi di Tapanuli
    Utara, dipinggiran danau Toba. Pusuk Buhit sendiri artinya adalah
    puncak gunung. Pusuk Buhit tidak ditumbuhi pohon, jelasnya tidak ada
    bambu disana. Yang ada hanya tumbuhan perdu, ilalang, dan rumput
    gunung. Bambu – dari mana kakek moyang keluar – menurut nalar
    mendarat di puncak gunung itu dan mereka keluar dari dalamnya
    setelah bambunya meledak hancur. Mengapa ada bambu pada puncak Pusuk
    Buhit yang tandus dan terjal? Tentu saja karena genangan air yang
    mengapungkannya, yang tak lain adalah banjir besar.

    Dapat dipahami mengapa jalan cerita menjadi seperti itu, karena
    setelah ribuan tahun terpisah dari induk bangsanya, narasi jadi
    berbeda. Bahtera Nuh berubah menjadi sebentuk perahu bambu berbentuk
    pipa yang kedua ujungnya ditutup, dan Bukit Ararat berubah menjadi
    Pusuk Buhit.

    8). Mangokal Holi atau Eksumasi (Pemindahan tulang belulang)

    Jika Pemerintah mengubah fungsi lahan pekuburan, wajar jika tulang-
    belulang para almarhum/ah dipindahkan oleh pihak keluarga yang
    terkait. Alasan ini sangat praktis.
    Bagi orang Tapanuli, penggalian tulang belulang (eksumasi) dari
    kerabat yang masih satu dalam garis silsilah dan dikuburkan didaerah
    lain adalah praktek yang sangat umum hingga sekarang. Sering
    alasannya hanya untuk kepuasan batin belaka walaupun biayanya sangat
    mahal karena termasuk dalam kategori perhelatan besar.

    Pada bangsa Israel kuno hal semacam adalah kebiasaan umum. Sejarah
    sekuler menuturkan bahwa tulang belulang Yusuf dibawa dari Mesir
    ketika bangsa ini keluar dari sana. Juga dalam kitab lain dalam
    Perjanjian Lama, sekelompok masyarakat berniat memindahkan tulang
    belulang dari satu pekuburan (walaupun kemudian dihalangi oleh
    seorang nabi).

    9). Peratap/Ratapan

    Adalah wajar bagi jika satu keluarga menangis disekeliling anggota
    keluarga / kerabat yang meninggal dan terbujur kaku. Mereka
    menangisi si mati, dan seseorang meratapinya. Meratap berbeda dengan
    menangis. Meratap dalam bahasa Tapanuli disebut mangandung.
    Mangandung ialah menangis sambil melantunkan bait-bait syair
    kematian dan syair kesedihan hati.

    Karena sepenuhnya terikat dengan komponen syair-sayir maka
    mangandung ad 676 alah satu bentuk seni yang menuntut keahlian.
    Untuk memperoleh kepiawaian harus belajar. Bahasa yang digunakan
    sangat klasik, bukan bahasa sehari-hari. Setiap orang-tua yang
    pintar mangandung akan mendapat pujian dan sering diharapkan
    kehadirannya pada setiap ada kematian.

    Di desa-desa, terutama di daerah leluhur – Tapanuli – tidak
    mengherankan kalau seseorang orang yang tidak ada hubungan keluarga
    dengan orang yang meninggal, bahkan tidak dikenal oleh masyarakat
    setempat, namun turut mangandung disisi mayat. Masyarakat mendukung
    hal seperti itu. Kata-kata yang dilantukan dalam irama tangisan
    sangat menyentuh kalbu. Tak jarang pihak keluarga dari si mati
    memberi pasinapuran (ang pao) kalau si peratap tersebut pintar,
    sekedar menunjukkan rasa terima kasih.

    Peratap-peratap dari luar ini sebenarnya tidak menangisi kepergian
    si mati yang tidak dikenalnya itu. Alasannya untuk turut meratap
    adalah semata-mata mengeluarkan kesedihan akibat kematian keluarga
    dekatnya sendiri pada waktu yang lalu, dan juga yang lebih spesifik
    yaitu mengekspresikan seni mangandung itu.

    Ini sangat jelas dari ungkapan pertama sebelum melanjutkan andung-
    andungnya :,,Da disungguli ho ma sidangolonhi tu sibokka nahinan”
    Sibokka nahinan adalah anggota keluarga sipangandung yang sudah
    meninggal sebelumnya. Selanjutnya dia akan lebih banyak berkisah
    tentang mendiang familinya itu.

    Bagaimana dengan bangsa Israel? Dari sejarah diketahui bahwa ketika
    Yusuf (perdana menteri Mesir) meninggal, sanak keluarganya membayar
    para peratap untuk mangandung. Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian
    Baru berkali-kali mencatat kata -kata ratapan, meratap, peratap.
    Kitab Ratapan yang ditulis oleh raja Salomo, dalam praktek Israel
    kuno adalah syair-syair yang dilantunkan sambil mangandung, kendati
    bukan pada acara kematian.

    10). Hierarki pada tubuh

    Dalam budaya Batak, kepala adalah anggota tubuh yang paling tinggi
    martabatnya. Menyentuh kepala seseorang dengan tidak disertai
    permintaan maaf yang sungguh-sungguh, bisa berakibat parah.
    Sebaliknya anggota tubuh yang paling rendah derajatnya ialah telapak
    kaki. Adalah penghinaan besar jika seseorang berkata kepada
    seseorang lain:,,Ditoru ni palak ni pathon do ho = Kau ada dibawah
    telapak kakiku ini”, sambil mengangkat kaki memperlihatkan telapak
    kakinya pada seteru. Penghinaan seperti ini hanya dilontarkan oleh
    seseorang yang amarahnya sudah memuncak dan sudah siap berkelahi.

    Pada zaman dulu, dalam setiap pertemuan, telapak kaki selalu
    diusahakan tidak nampak ketika duduk bersila. Pada bangsa-bangsa
    Semitik tertentu di Timur Tengah, tradisi semacam ini masih tetap
    dijaga hingga sekarang karena memperlihatkan telapak kaki pada orang
    lain adalah pelanggaran etika yang berat, karena telapak kaki tetap
    dianggap anggota tubuh yang paling hina derajatnya.

    11). Tangan kanan dan sisi kanan

    Dalam budaya Tapanuli, sisi kanan dan tangan kanan berbeda tingkat
    kehormatannya dengan sisi kiri dan tangan kiri. Jangan sekali-kali
    berinteraksi dengan orang lain melalui tangan kiri jika tidak karena
    terpaksa. Itupun harus disertai ucapan maaf. Dalam Alkitab banyak
    tercatat aktivitas sisi `kanan’ yang melambangkan penghormatan atau
    kehormatan.

    Yusuf sang perdana menteri Mesir memprotes ayahnya Yakub yang
    menyilangkan tangannya ketika memberkati Manasye dan Efraim (baca
    Kejadian 48). Rasul Paulus dalam salah satu suratnya menyiratkan
    hierarki anggota tubuh ini. Juga baca Pengkhotbah 10:2, Mzm 16:8,
    Mat 25:33, 26:64 Mrk 14:62, Kis 7:55-56, 1Pet 3:22, dll.

    12). Anak sulung

    Dalam hierarki keluarga, posisi tertinggi diantara seluruh keturunan
    bapak/ibu ialah anak sulung. Ia selalu dikedepankan dalam memecahkan
    berbagai masalah, juga sebagai panutan bagi semua adik-adiknya. Jika
    ayah (sudah) meninggal, maka anak sulung yang sudah dewasa akan
    mengganti posisi sang ayah dalam hal tanggung jawab terhadap seluruh
    anggota keluarga seperti yang diungkapkan dalam umpasa : Pitu batu
    martindi-tindi, alai sada do sitaon na dokdok. Sitaon na dokdok itu
    adalah si anak sulung. Tanggung jawab itulah yang membuat dia besar,
    memberi karisma dan wibawa. Karisma dan wibawa, itulah profil yang
    melekat pada anak sulung.

    Alkitab ditulis dengan bahasa manusia, bangsa Israel kuno. Deskripsi
    tentang anak sulung pada bangsa ini sama seperti yang ada pada suku
    Batak yang sekarang, sehingga the term of the firstborn (istilah
    anak sulung) banyak terdapat dalam kitab tersebut. (baca Kel 4:22,
    34:20, 13:12 dan 15, Im 27:26, Bil 3:13, 8:17, Mzm 89:28, Yer 31:9,
    Hos 9:20, Rom 8:23, Luk 2:27, 11:16, 1Kor 15:20 dan 23, Kol 1:15 dan
    18, Ibr 1:6, Yak 1:18, dll)

    13). Gender

    Hingga sekarang posisi perempuan dalam hubungan dengan pencatatan
    silsilah selamanya tidak disertakan karena perempuan dianggap milik
    orang lain, menjadi paniaran ni marga yang berbeda. Hal yang sama
    terjadi pada bangsa Israel kuno ; bangsa ini tidak memasukkan anak
    perempuan dalam silsilah keluarga. Ada banyak silsilah dalam
    Alkitab, tetapi nama perempuan tidak terdapat didalamnya kecuali
    jika muncul sebagai yang sangat penting seperti Rut dan Maria (ibu
    Yesus). Kalaupun nama Dina disebut juga dalam Alkitab, itu bukan
    karena posisinya yang penting tetapi hanya sebagai pelengkap nama-
    nama keturunan Yakub yang kemudian menurunkan seluruh bangsa Israel.
    Dalam Tradisi Israel, anak perempuan tidak dihitung sebagai bangsa,
    tetapi anak laki-laki, red.

    13). Kemenyan BATAK TOBA

    Ada cerita yang sangat dipercaya oleh masyarakat Tapanuli, Sumatera
    Utara. Salah satu persembahan yang dibawa tiga majuz atau
    cendekiawan dari timur untuk bayi Yesus yang baru dilahirkan di
    Betlehem itu berasal dari Tanah Tapanuli. Persembahan itu berupa
    kemenyan, mendampingi dua persembahan lainnya, emas dan mur. Lewat
    cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya kemenyan itu
    dibawa dari Pelabuhan Barus, yang dulu pernah menjadi pelabuhan
    besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem. Cerita itu semakin
    bergulir mengingat sebagian besar penduduk Tapanuli beragama Kristen
    dan Katolik yang erat dengan cerita kelahiran Yesus Kristus.

    Kebenarannya memang perlu diteliti, tetapi setidaknya dari cerita
    itu bisa terlihat bahwa sampai sekarang pun getah harum bernama
    kemenyan, yang dalam bahasa Batak disebut haminjon, itu begitu erat
    dengan kehidupan orang Tapanuli. Kepala Badan Perencanaan dan
    Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Utara yang juga mantan Bupati
    Tapanuli Utara RE Nainggolan menjelaskan, kemenyan pernah sangat
    menyejahterakan masyarakat Tapanuli.

    Dan, getah harum itu ikut pula membesarkan namanya. “Nenek saya
    pedagang kemenyan,” tuturnya. Ia tahu persis, pada tahun 1936
    neneknya sudah mempunyai mobil untuk mengangkut kemenyan dari
    Tapanuli ke Pelabuhan Sibolga. Saat itu harga satu kilogram kemenyan
    sama dengan satu gram emas. Standar itu dipakai terus oleh petani
    dan pengepul di Tapanuli: Satu kilogram kemenyan sama dengan satu
    gram emas. Satu kilogram kemenyan juga setara satu kaleng (16
    kilogram) beras. Selain cerita tentang persembahan dari timur untuk
    Nabi Isa itu, tak banyak orang tahu sejarah kemenyan di Tapanuli.
    Kebanyakan warga menyebutkannya sebagai tanaman ajaib yang sudah ada
    ratusan tahun dan menghidupi masyarakat Tapanuli.

    14). Pemberian Nama Bayi yang Lahir Tujuh Hari

    Di dalam tradisi Parmalim – Agama Leluhur Batak Kuno, setiap anak
    bayi yang lahir selama tujuh hari harus di bawa ke Pancur untuk
    Permandian dan sekaligus pemberian nama. Permandian bayi yang sudah
    tujuh hari itu diserahkan ke Imam Parmalim. Setelah itu diberi nama
    dengan diadakannya Pesta Martutu Aek.

    Memang tidak ada sunat, tetapi beberapa suku Israel seperti Bene
    Menashe di India dan Suku Chiang Min pun melakukan hal yang sama.
    Karena apa? Karena mereka sudah melalui generasi ke generasi,
    asimilasi, masuknya unsur-unsur lokal dan sebagainya, seperti nama-
    nama dewa-dewi sesembahan lokal dimana mereka tinggal. Seperti
    itulah, tetapi identitas keaslian mereka sebagai keturunan Israel
    masih kelihatan. Seperti budaya, adat, Agama -Kepercayaan
    Monotheisme (meskipun masuknya paham lokal setempat), dan beberapa
    kebiasaan yang berbeda dengan suku – suku yang lainnya.

    15). Monoteisme Hamalimon – Parmalim – Ugamo Malim

    Hamalimon – Parmalim – Ugamo Malim, Agama Leluhur Bangso Batak Toba

    Parmalim, kaum minoritas yang tegar mempertahankan nilai leluhur
    batak. Kata Malim berasal dari bahasa Arab yang terdapat di kitab-
    kitab suci; yang berarti suci dan saleh dari asal kata Muallim.
    Dalam bahasa Arab Muallim merujuk kepada istilah orang suci yang
    menjadi pembimbing dan sokoguru. Parmalim diistilah Batak berkembang
    ke dalam pengertian; orang-orang saleh berpakaian sorban putih.

    Parmalim merupakan agama monotheis asli Bangso Batak Toba. Parmalim
    sudah ada sejak 497 Masehi atau 1450 tahun Batak.

    TUHAN menurut Hamalimon –Parmalim – Ugamo Malim

    Ugamo malim menyebut Tuhan adalah Mulajadi na Bolon (Awal Mula Yang
    Besar, red). Mulajadi na Bolon adalah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak
    bermula dan tidak berujung. Bahwa Mulajadi na Bolon atau Tuhan itu
    wujud atau ada. Tetapi tidak dapat dilihat. Dia tidak bermula dan
    tidak mempunyai ujung. Dia adalah mutlak absolut, Maha Esa, Maha
    Kuasa, Maha Agung dan tidak dapat dibandingkan. Dia dekat dan jauh
    dari alam ciptaannya. Dia adalah kuasa yang menghukum dan kuasa
    mengampuni. Kuasa kasih dan kuasa murka. Demikianlah sifat-sifat
    Mulajadi Na Bolon, Tuhan yang satu bersadarkan Ugamo Malim.

    Dalam Injil Perjanjian Lama, menceritakan Raja Salomo dikenal dengan
    Nabi Sulaiman, memerintahkan rakyatnya melakukan perdagangan dan
    membeli rempah-rempah hingga ke Ophir. Ophir patut diduga adalah
    Barus di Tapanuli. Perkiraan itu punya jejak spiritual berbentuk
    kepercayaan monotheisme. Misalnya Ugamo Parmalim yang menjadi agama
    asli etnis Batak, meyakini Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutan Ompu
    Mulajadi Na Bolon (Parmalim atau Ugamo Malim, pen).

    Selain itu, sekelompok penyebar ajaran Kristen Nestorian dari Persia
    yakni Iran, yang menjejakkan kakinya di Barus. Kelompok itu
    diperkirakan datang sekira tahun 600an Masehi dan mendirikan gereja
    pertama di Desa Pancuran, Barus.

    Tambahan: Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9,
    diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420
    talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau.
    Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-
    Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s.
    berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-
    Na fiha). Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati
    Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir
    itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat
    pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis
    Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang
    Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-
    15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di
    sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.

    Secara “teologis” bisa dikatakan bahwa ugamo malim juga menganut
    paham monoteistik, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena
    tujuan akhir semua doa mereka tetap diarahkan kepada debata Mulajadi
    Nabolon (Tuhan Pencipta langit dan bumi). Ini hal yang luar biasa
    uniknya. Tidak ada analisis yang dapat menerangkan itu jika tidak
    menghubungkannya dengan faham monoteisme Yudaisme bangsa Israel kuno
    yang terbawa melekat hingga sekarang, tidak lekang oleh kikisan
    kurun waktu ribuan tahun.

    16). Ibadah Parmalim

    Dalam melaksanakan ibadah, Parmalim melaksanakan upacara (ritual)
    Patik Ni Ugamo Malim untuk mengetahui kesalahan dan dosa, serta
    memohon ampun dari Tuhan Yang Maha Esa yang diikuti dengan bergiat
    melaksanakan kebaikan dan penghayatan semua aturan Ugamo Malim.

    Sejak lahir hingga ajal tiba, seorang “Parmalim” wajib mengikuti 7
    aturan Ugamo Malim dengan melakukan ritual (doa). Ke-7 aturan
    tersebut adalah :

    1. Martutuaek (kelahiran)
    2. Pasahat Tondi (kematian)
    3. Mararisantu (peribadatan setiap hari sabtu)
    4. Mardebata (peribadatan atas niat seseorang)
    5. Mangan Mapaet (peribadatan memohon penghapusan dosa)
    6. Sipaha Sade (peribadatan hari memperingati kelahiran Tuhan
    Simarimbulubosi)
    7. Sipaha Lima (peribadatan hari persembahan / kurban)

    Selain ke-7 aturan wajib di atas, seorang “Parmalim” harus
    menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan seperti menghormati dan
    mencintai sesama manusia, menyantuni fakir miskin, tidak boleh
    berbohong, memfitnah, berzinah, mencuri, dan lain sebagainya. Diluar
    hal tersebut, seorang “Parmalim” juga diharamkan memakan daging
    babi, daging anjing dan binatang liar lainnya, serta darah.

    Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya
    dalam kehidupannya, memiliki pengharapan kelak ia akan mendapat
    kehidupan roh suci nan kekal.-Kata bijak Ugamo Malim

    Secara implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugamo
    Malim atau lebih dikenal dengan Parmalim di Tanah Batak sejak turun
    temurun, seperti yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos selaku Ulu
    Punguan (pemimpin spiritual) Parmalim terbesar di Desa Hutatinggi
    Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.

    Menurut beberapa pandangan ilmuwan sosial, sebenarnya Ugamo Malim
    layak menjadi sebuah agama resmi. Alasannya ialah dalam ajaran
    aliran ini juga terdapat nilai-nilai religius yang bertujuan menata
    pola kehidupan manusia menuju keharmonisan, baik sesama maupun
    kepada Pencipta.

    Dan secara ilmu sosial tujuan ini mengandung nilai luhur. Bahkan,
    ajaran Parmalim menuntut manusia agar hidup dalam kesucian,”
    jelasnya kemudian menerangkan secara detail asal-muasal kata
    Parmalim yang berasal dari kata “malim”.

    Malim berarti suci dan hidup untuk mengayomi sesama dan meluhurkan
    Oppu Mulajadi Nabolon atau Debata (Tuhan pencipta langit dan
    bumi). “Maka, Parmalim dengan demikian merupakan orang-orang
    mengutamakan kesucian dalam hidupnya,” jelas Marnangkok. Yang kami
    puja tak lain adalah Oppu Mula Jadi Na Bolon bukan”begu” (roh
    jahat),” katanya.

    “Dan inilah yang menjadi bias negatif dari masyarakat terhadap
    Parmalim.” Marnangkok kemudian menjelaskan, Oppu Mula Jadi Nabolon
    adalah Tuhan pencipta alam semesta yang tak berwujud, sehingga Ia
    mengutus sewujud manusia sebagai perantaraannya (parhiteon), yakni
    Raja Sisingamangaraja yang juga dikenal dengan Raja Nasiak Bagi.
    Raja Nasiak Bagi merupakan julukan terhadap kesucian (hamalimon)
    serta jasa-jasanya yang hingga akhir hidupnya tetap setia mengayomi
    Bangsa Batak. Nasiak Bagi sendiri berarti ditakdirkan untuk hidup
    menderita. Ia bukan raja yang kaya raya tetapi hidup sama miskin
    seperti rakyatnya.

    Dengan demikian, Parmalim meyakini bahwa Raja Sisingamangaraja dan
    utusan-utusannya mampu mengantarkan mereka (Bangsa Batak) kepada
    Debata. Ugamo Malim diyakini sebagian orang sudah ada sebelum ajaran
    Kristen dan Islam masuk ke daerah itu. Hidup dalam kepasrahan.
    Barangkali itu jugalah intisari dari pernyataan kata bijak Parmalim
    yang mengatakan: “Baen aha diakkui sude bangso on hita, ia anggo so
    diakkui Debata pangalahon ta.” (Tidakklah begitu berarti pengakuan
    semua bangsa terhadap kita, dibandingkan pengakuan Tuhan terhadap
    perilaku kita).

    Catatan: Sisingamangaraja, adalah Singa yang merajai. Para Datu atau
    Tua-Tua Batak Toba, menjuluki Singa bagi Hukum dan Singa bagi para
    raja. Padahal Singa tidak ada di Tapanuli, yang ada hanyalah
    Harimau. Kalau dilihat dari makna simbolis alkitab, hanya Suku
    Yehuda yang dijuluki Singa.

    Seperti apa yang kemudian dijelaskan Marnangkok, Pemimpin
    Parmalim, ” Untuk apa pengakuan dari setiap bangsa jika Tuhan
    sendiri tidak mengakui perbuatan kita di dunia ini?” Nampaknya,
    perjuangan Ugamo Parmalim sudah berujung pada kepasrahan. Dalam
    kepasrahan ini tentu saja masih ada harapan. Tapi, harapan itu
    bukanlah berasal dari dunia, melainkan dari Oppu Mula Jadi Nabolon.
    Dalam harapan itu, ada pula ketaatan untuk selalu mempertahankan
    hidup suci.

    Selanjutnya ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Batak, “Berilah
    kepada kami
    penghiburan yang menangis ini, bawalah kami dari kegelapan dunia ini
    dan berilah kejernihan dalam pikiran kami.” Mereka yakin Debata
    hanya akan memberkati orang yang menangis. Nah, dalam kepasrahan
    yang berpengharapan inilah mereka hidup. Dalam keterasingan itu juga
    mereka menyerahkan hidupnya pada “kemaliman” (kesucian). “Parmalim
    adalah mereka yang menangis dan meratap,” katanya.

    17). Ibadah setiap Hari Sabtu – Samisara -Marari Sabtu

    Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan
    larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah
    Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti
    Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Dalam
    menjelang hari Sabtu, pengikut Parmalim dilarang bekerja atau
    melakukan kegiatan apapun. Penganut Parmalim melakukan ucapan syukur
    pada setiap hari Sabtu.

    Marnakkok Naipospos, pemimpin Parmalim mengatakan: “Samisara itu
    hari ketujuh bagi orang Batak. Diidentikkan dengan hari Sabtu,
    supaya berlaku untuk selamanya.

    Karena kalau kita bertahan pada kalender Batak, yang muda ini bisa
    bingung. Makanya kakek kita menentukan samisara ini hari Sabtu.”

    Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi
    yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi yaitu ritual
    sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan
    Hatutubu ni Tuhan.

    18). Larangan makan Babi, Anjing, Binatang liar, dan Darah

    Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di
    antaranya adalah larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan
    seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah
    dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran
    Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin menghaturkan pujian kepada
    Debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan
    pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia
    dapat bersatu. Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan
    hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh.

    19). Ritual

    Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual
    besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap
    tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan
    Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima),
    yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli.
    Yang kedua diadakan secara besar-besaran pada acara ini para
    Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. “Ini merupakan tanda
    syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan,” kata
    Marnangkok.

    20.) Kisah – Mitos

    Dalam Kitab Parmalim, yakni Tumbaga Holing, terdapat kisah
    manusia pertama, Adam dan Hawa termasuk taman eden dimana hawa
    digoda si ular. Hal itu dalam istilah bahasa Batak Toba. Parmalim
    itu bisa jadi merupakan ajaran usianya sudah ribuan tahun, jauh
    sebelum Islam dan Kristen masuk dan mempengaruhi keyakinan etnis
    Batak. Demikian pula dengan simbol dan pakaian kebesaran kerajaan
    Batak Toba dan Parmalim, agama leluhur Bangso Batak Toba, cenderung
    mendekati simbol-simbol agama Samawi, misalnya, tongkat, pedang,
    sorban berwarna putih serta stempel kerajaan. Jika dihubungkan
    cerita tentang penemuan mummy Mesir yang dibalsem dengan rempah-
    rempah pengawet di antaranya kanfer (kapur barus) serta kisah
    tentang Raja (Nabi) Sulaiman/ Salomo membutuhkan rempah-rempah dari
    Ophir (Barus) di Tapanuli, diperkirakan jejak agama monotheisme
    Israel terserap dan kemudian mengakar dalam keyakinan Parmalim –
    Hamlimon – Ugamo Malim, agama Bangso Batak Toba.

    dan masih banyak lainnya lagi….

    Saya cukupkan saja dulu hingga disitu, karena terlalu letih untuk
    membeberkan semua, termasuk indikasi-indikasi lemah yang banyak
    jumlahnya. Jika data yang diatas itu saja dibawa kepada ahli
    statistik, yang tentu akan mempertimbangkan semua aspek-aspek lain
    yang terkait kedalamnya, simililaritasnya dengan tradisi bangsa
    Israel kuno dengan bukti autentik tertulis dalam Alkitab, informasi
    sejarah sekuler, tradisi Semitik yang ada hingga sekarang, serta
    kesamaan tradisi itu pada suku Batak setelah kurun waktu kurang
    lebih 3000 tahun, angka perbandingan untuk mengatakan bahwa suku
    Batak Toba bukan keturunan Israel mungkin 1 : 1,000,000 bahkan bisa
    jadi lebih.

    Tulisan ini tidak bermaksud menampilkan superioritas ras, suku atau
    bangsa atau budaya tertentu. Jika tulisan ini menimbulkan kesan
    seolah-olah menonjolkan superioritas suatu budaya tertentu, hal itu
    semata-mata terjadi karena topik yang berfokus pada peran suatu
    etnis atau Bangso Batak Toba. Keberadaan unsur asing dalam
    kebudayaan suatu bangsa adalah sebuah kewajaran. Penyerapan unsur
    asing ke dalam suatu budaya lokal tidak berarti menunjukkan
    inferioritas kebudayaan yang menyerapnya.

    Sejarah justru mencatat, kebesaran suatu kebudayaan berkorelasi
    positif dengan banyaknya unsur asing yang diserap dan dikembangkan
    oleh komunitas budaya bersangkutan. Sejarah juga mencatat interaksi
    suatu komunitas budaya dengan komunitas budaya lain, berjalan timbal
    balik, tidak pernah searah saja. Tulisan ini mestilah dipahami
    sebagai upaya menampilkan kemungkinan terjadinya pertukaran nilai
    budaya dalam rentang waktu beberapa abad antara Timur dengan Barat.

    Pada jaman Raja-raja Israel dan Yehudah, telah dilakukan kontak
    dengan Barus, Tapanuli dengan Israel, Mesir, Persia, Cina, India,
    Arab, Yunani dan Pakistan yang terjadi satu milenium sebelumnya,
    hubungan dagang tersebut sudah berlangsung beberapa abad sebelum
    masehi).

    Dari berbagai sumber.

    tulisan ini telah direvisi ulang lagi…

    Silahkan klik website dibawah ini:

    http://pormadi.wordpress.com/2008/01/02/bangso-batak-toba-keturunan-israel-yang-hilang/

  6. Kevin Pardomuan Simanjuntak
    Mei 27, 2008 pukul 12:41 pm | #6

    YEEAS BATAK!!!!!!!!!!! HORAS!!!!!!!!!!!!!!!

  7. Mei 27, 2008 pukul 12:50 pm | #7

    Yoa~~~ Batak mantap!!
    Sep sep… History tentang batak sangat banyak tapi ini sudah mencukupi banyak informasi.
    Sedang menunggu kelanjutannya!

    HORAS!!

  8. tika
    Juli 2, 2008 pukul 3:58 am | #8

    gw bukan orang batak tp py pacar orang batak dan bahkan pengen nikah ma dia tp sejauh ini keluarga belum setuju karena gw ga py marga, so artikel diatas sangat bantu gw untuk tau seperti apa sih keluarga batak…

    HORAS!!!!!

  9. greta
    Februari 15, 2009 pukul 4:55 am | #9

    hellow…
    semuanya…kenalin ne gw boru gultom…hehehe…tolongin gw dunk…cari info kebudayaan batak yg mempengaruhi kepribadiaan ni…mohon maaf ya sblmnya, wlau gw batak tapi g tau apa2, maklum lahir di tanah betawi gt…thnx..gbu

  10. jegez
    September 1, 2011 pukul 11:23 pm | #10

    This is true. Batak culture is very rich and diverse, making Batak culture admired and even there there are also many area attractions.

    Regards
    Jegez Love Batak

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: